Kumpulan Puisi Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP UMJ

 Rumah

Karya: Indah Nur Amalia

Untuk apa?

Untuk apa sibuk mencari

Kalau kau tau yang kau inginkan hanyalah itu

Untuk apa?

Untuk apa kau sibuk mengalihkan hati

Kalau yang kau tahu pikiran dan hatimu hanyalah terisi oleh itu

 

Untuk apa?

Untuk apa kau sibuk melihat kebahagiaan di luar sana

Kalau kau tau bahagiamu disini

Lantas, untuk apa?

Untuk apa pula berkelana kesana-kemari

Kalau kau tau tempat nyamanmu adalah itu

 

Dan..

Dari semua kata “itu”

Hanya pulang jawabannya

 

Kita

Karya: Rita mentari

Mungkin kata "kita" ngga akan pernah benar2 ada

Tapi bayangmu nyata dikepala

Sepekat tinta hitam

Segelap langit ditengah malam

Namun layaknya duri yang tajam

 

Mungkin "kita" hanya sekedar untaian kata

Tanpa pernah ada rasa

Atau hanya aku saja

 

Kau biarkan aku terbunuh

Dengan perasaan yang bergemuruh

 

Sorotan matamu yang binar

Kukira hanya aku yang memilikinya

Nyatanya tidak benar

 

Kadang "kita" hanyalah jiwa yang bisu

Tak mampu berkata kemudian menipu

Tapi jelas "aku mencintaimu".

 

Manusia Kuat

Karya: Khopipah Pratiwi

 

Hei orang-orang Pribumi...

Hei orang-orang Pribumi...

Hei orang-orang Pribumi...

Angkat semua harga dirimu

Angkat semua harta martabat mu

Raih semua hak dan kewajiban mu

 

Wahai orang-orang pribumi

Negerimu sedang dilanda banyak kerusuhan..

Negerimu sedang dilanda banyak musibah...

 

Wahai orang-orang pribumi

Tinggikan semangat mu dari ketidakadilan, bencana, dan kecurangan dari petinggi-petinggi negara...

 

Kecurangan dari manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya..

Kecurangan dengan seenaknya menggunakan uang rakyat kecil, rakyat melarat, dan rakyat miskin...

 

Kelak kau akan menderita di akhirat 

Wahai tikus-tikus berdasi...

 

Sementara

Karya: Adelia Annisa Suci

Andai waktu itu

Aku tak mengenal sosok dirimu

Tentu aku sudah melarikan diri

 

Adanya dirimu seperti tiada

Sosok inspiratif bagi kami

Dengan ciri khas yg berbeda

Keihklasan yg kau berikan tiada dua

 

Kau mengajariku

untuk terus berlari tanpa berhenti

Hingga akhirnya lama tak bersua

Dan lupa tegur sapa

 

Angan ku salah

Menganggap mu rumah

Nyatanya kau hanya ramah

Kepada seluruh orang penerima kisah

 

Kini terlalu banyak janji-janji

Sampai akhirnya, belum berdiri

Sudah berlari

 

Masih Pantaskah?

Karya: Naura Nur Nahda

 

Masih pantaskah disebut manusia?

Sebab suka sekali kita ini omong kosong

Berkoar-koar dalam menghakimi

Tapi tak pandai membenahi diri

 

Masih pantaskah disebut manusia?

Sebab senang sekali kita besar kepala

Mengolok-olok sana sini

Padahal ilmu tak seberapa

 

Masih pantaskah disebut manusia?

Sebab ku lihat kita sukar merendah

Yang ada hanyalah keangkuhan belaka

Setelah itu berlomba-lomba hanya untuk mengemis sebuah pujian

 

Masih pantaskah disebut manusia?

Sebab ku saksikan kita kerap kali berkawan dengan kepalsuan

Kesana kemari memampang topeng

Alih-alih ingin dipandang

 

Masih pantaskah disebut manusia?

Sebab ku termukan kita saling merangkul lalu menikam diam-diam

Membiarkan banyak dari mereka mati

Hanya karena kita ingin tetap berdiri

 

Jadi, bagaimana ?

Masih pantaskah disebut manusia?

 

(Depok, 2020)

 

LELAH HATI

Karya: Angga

 

Aku lelah menahan sakit ini

Tetapi aku tidak bisa mengindari ini

Semua yang ku lakukan hanyalah melodi

Akan terluka jika aku hampiri semua ini

 

Sepi, sendiri kini yang ku benci terbelenggu begitu dalam

 

Apa semua ini harus ku genggam

Dengan gelap gulita dunia di kesunyian malam

Aku sendiri dengan segala keheningan yang terus menerkam

 

Aku yang kau banggakan, aku yang kau cintakan

Ingin ku berbelok ke sungai menepi di hutan

Dengan berteriak segala kehancuran

 

Bosan, bosan, dan bosan hidupku penuh dengan kehampaan

 

Aku ingin terbang ke langit

 

Ingin ku pecahkan semua kepingan diriku yang rumit

Tapi, arah diriku akan menjadi sulit

Apakah aku berada di tengah badan ular yang terlilit

 

Kehancuranku tak ada guna

 

Hidupku diresapi oleh air mata dengan tanda tanya

Jiwa ragaku di hantui dengan segala kebisingan ditelinga ku

Semua ini akan ku tutup dengan akhir cerita ku...

 

Aku, Kau

Karya: Naura Nur Nahda

           

Sungguh aku tak pernah beranjak,

beralih pun enggan,

aku tak ahli dalam meninggalkan,

tak piawai dalam menepikan,

sungguh aku tak pernah kemana-mana.

           

Sudah ku katakan berulang kali bahwa kau adalah arah,

yang senantiasa dituju,          

meski terkedang berkelok dan tak beraturan,

bagiku kau tetap pilihan.

 

Namun,

jika kelak kau temui aku tak ada,

barangkali aku hanya sedang tertimbun,

oleh keinginan-keingannmu,

yang lainnya.

 

(Depok, 2020)

 

Merindukanmu

Karya: Neli Agustin

 

Ketika ku memandang sinar rembulan

Aku seperti mendapat kekuatan

Untuk melupakanmu sejenak tuan

Melupakan dirimu yang pernah singgah

 

Aku merindukanmu

Sampai kapan seperti ini

Apa aku harus mencari penggantimu?

Ahh.. rasanya jahat sekali

 

Aku sangat merindukanmu

Sedang apa kamu di sana

Andai aku bisa menembus dimensi waktu

Kan ku ulang kenangan kita bersama

 

Ku tuliskan puisi terakhir dariku

Kaki ini harus tetap melangkah maju

Meski kau tak ada disisiku

Aku akan tetap mencintaimu

 

Komentar