Kumpulan Puisi Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP UMJ

 Pahlawan Indonesia

Karya: Amelia Dwi Damayanti

Perihal para pahlawan Indonesia

Jangan pernah lupa apa yang telah dilalui oleh mereka

Pertumpahan darah yang tak pernah dikasih waktu jeda

Gencatan senjata yang selalu menjadi angan belaka

Kehilangan keluarga sampai habis air mata untuk menangisinya

 

Perihal para pahlawan Indonesia

Jangan pernah lupa apa yang telah diberi oleh mereka

Sebuah Negara indah dengan ibu kota bernama Jakarta

Tak ada penjajahan lagi dari Jepang ataupun Belanda

Sebuah kemerdekaan yang selalu kita peringati setiap tahunnya

 

Perihal para pahlawan Indonesia

Kami berterima kasih atas semua perjuangannya

Terima kasih sudah rela berkorban untuk generasi selanjutnya

Terima kasih banyak atas semuanya

Terlebih kepada Bung Karno dan Bung Hatta

 


 

Teruntuk kamu, Tuan

Karya: Maula Shopi R.

 

Malam ini,

hanya semburat bayangmu yang singgah dalam khayalan,

padahal inginku kau nyata adanya.

Namun, keadaan mengharuskan dan kenyataan tidak selalu membahagiakan.

Sepertinya semesta menghukum kita, atau membiarkan kita menikmati rindunya?

Aku selalu berdoa menyebut nama Nya, agar kelak selalu kau adanya, hingga aku menua dan hilang dari dunia.

Semoga semesta mengaamiini dan akan ku lukis kisah indah bersamamu hingga menua dan mati.

 

(Tangerang, 14 Mei 2020)

 


Manusia Seperti TUHAN

Karya: Kholifatul Husna

 

Tuhan memberiku banyak rintangan

Dari banyaknya perjuangan yang tak pernah terselesaikan

Banyak ego yang tak bisa dikendalikan

Entah harus seberapa kali ku tekankan

 

Semesta sudah berapa banyak yang ku keluhkan

Hati dan pikiran yang melelahkan

Juga fisik yang tak lagi bisa disandarkan

 

Aku ini manusia

Bukan hewan ataupun benda

Yang seenak jidat dimaki tanpa sebab

 

Yang katanya selalu dirangkul

Nyatanya malah dipukul

Yang katanya selalu disayang

Nyatanya malah dibuang

 

Kau ini manusia atau binatang?

Seperti manusia yang tak punya pikiran

Mencaci tanpa tau sana sini

 

Lihatlah yang kau sebut paksaan itu menghasilkan

Nyatanya malah menyesatkan

Nafsu yang berlumuran

Hilang sekejap tanpa akal sehat

 

Tuhan

Suatu hari aku akan bungkam

Dengan segala ketidak adilan

Ambisi yang tidak lagi ku inginkan

Dan diri yang tak lagi berdiri berdampingan


 

Di Dalam Pelukan Fajar
Karya: Angger Rusmawati

 

Di kala resah tubuh ini karena buta arahku

Kau hadirkan senyummu untuk menerimaku

Kau ulurkan tanganmu untuk menyambutku

Kau jadikan diriku untuk kembali syahdu

Di kala gelap pandangan ini karena kebodohan yang membelenggu

Kau seraya pelita yang menyinari hitamku

Kau singkirkan cemasku dalam alunan gelora yang abu

Kau selayak surya yang tegas akan sinarnya dalam gagah langit biru

Tuntun aku dengan segala proses hidupku

Peluk aku dengan segenap cita-cita indahku

Tetaplah bersinar wahai sang fajar,

 hingga tak henti sukmaku dalam mengagungimu

Teruslah berjaya wahai yang agung,

hingga bertambah deras rasa bangga yang mengalir dalam darahku

 

 


 

SENDU

Karya: Ridana Dwi Dita Afrilla

 

Bumi Indonesia nampak murung

Terlihat mendung

Saban hari seperti hari berkabung

Banyak berita duka yang datang

Pesawat jatuh, gempa, tanah longsor, gunung meletus, banjir

Hati terasa pilu dan getir

Mendengar berita duka di bumi pertiwi

 

Jangan terus sedih dan merutuki

Musibah yang datang silih berganti

Apalagi meratapi orang yang telah pergi

Mari berdoa kepada Sang Ilahi

Agar musibah tidak terjadi lagi

Serta introspeksi diri

Mungkin salah satu faktor musibah adalah kelalaian diri sendiri

 

(Bekasi, 25 Januari 2021)


Karya: Septiana Tanti

 

Bahaduri Melankolis

Petrikor sore tersuguh, dersik angin membasuh.

Tatkala kalbu buka suara, tansuara tanwarna tanrasa bersua.

Mangut bersenandika, kesah meronta.

Berbidai-bidai dipingpong nestapa, pedih acap kali berurat berumbi.

Idrak bergejolak, pengap terabak sesak, isak mendera jasad.

Siapa peduli? saya sendiri!

Tatkala benak buka suara, tegakkan kepala, kembali bersenandika.

Nestapa tiada arti tuk jiwa bahaduri, sayalah si bahaduri.

Hitam tahan tempa, putih tahan sesah.

Kekosongan afeksi sekadar halusinasi.

Pedih sedih perih bercalar ilusi.

Buana terlalu bengis tuk jiwa melankolis.

Laku lajak memanggil petaka.

belaka berhenti aksi kuasa lillahi.

Istirahatlah, nidera pelurunya, mangkus bersua alurnya.

 

 


 

Karya: Gilang Rhamadhan

Belum terlalu melangkah

Sudah lelah

Gapapa

Karna semua butuh jeda

Jangan terlalu banyak mencari

Tanpa disadari

Kita sudah punya banyak arti

Dari yang kecil

Hingga besar

Dari yang sulit

Hingga mudah

Dari yang kecewa

Hingga bahagia

 


 

Karya: Gilang Rhamadhan

Sebatang rokok dan harapan

Dunia hanya sebatas tembakau didalam papir rokok

Sedangkan harapan adalah filter diujung batang rokok

Manusia hidup untuk menghisap rokok

Dengan filter yang kita hisap

membuat rokoknya semakin terbakar

hingga membuatnya tiada dan sirna.

 

Komentar