Assalamualaikum Wr. Wb. Haloo semua!! Blog kali ini
menjelaskan sejarah Angkatan Balai Pustaka bisa terjadi dan bagaimana keadaan
pada saat zaman itu, untuk selanjutnya yuk dibaca!! Selamat membaca semua!
Balai Pustaka terbentuk pada 14 September 1908, melalui
keputusan Gubernemen dengan nama awal yaitu Commissie voor de inlandsche
school en volkslectuur yang diketuai oleh Dr. G. A. J. Hazeu. Balai Pustaka
terbentuk ketika pemerintahan Kolonial Belanda mendirikan komisi untuk bacaan
sekolah pribumi dan bacaan rakyat. Pada tahun 1910 Balai Pustaka dipimpin oleh
Dr. D. A. Rinkes sampai tahun 1916 dengan tugasnya yaitu memajukan moral dan
budaya serta meningkatkan apresiasi sastra. Tujuan didirikannya Balai Pustaka
adalah untuk mengembangkan bahasa-bahasa seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda,
bahasa Melayu tinggi dan bahasa Madura.
Zaman keemasan Balai Pustaka sekitar tahun 1948 hingga pertengahan tahun 50-an ketika dipimpin oleh K. St. Pamoentjak dan mendominasi penerbitan buku-buku sastra dan sejumlah pengarang Indonesia bermunculan seperti H. B. Jassin, Idrus, M. Taslim, dan lain-lain. Karya-karya pada Balai Pustaka berisi tentang adat istiadat dsn percintaan. Pada unsur intrinsik suatu karya gaya bahasa yang digunakan menggunakan perumpamaan klise, menggunakan banyak pepatah, dan gaya percakapan sehari-hari. Adapun ciri-ciri karya sastra prosa angkatan Balai Pustaka, yaitu:
- Menggambarkan persoalan kawin paksa
- Bersifat kedaerahan
- Tidak bercerita tentang kolonial Belanda
- Masih menggunakan perumpamaan klise, dan menggunakan banyak pepatah
Yang termasuk nama-nama pada Angkatan Balai Pustaka,
yaitu Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sultan Iskandar, Muhamad
Kasim, Suman H. S., Adinegoro, M. Yamin, Rustam Effendi, dan Yogi (Abdul Rivai).
Contoh dari karya-karya Balai Pustaka, diantaranya yaitu Azab dan Sengsara
(Merari Siregar), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Salah Asuhan (Abdul Muis), dan
lain-lain.
Komentar
Posting Komentar