Cerita Pendek Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia FIP UMJ

Tuhan, Harapan, dan Corona

 Karya: Nasifatul Syarifah

Kita belum pernah mengalami mewabahnya virus sedahsyat ini. Di zaman serba digital seperti ini, ketidak siapan dan kepanikan kita justru melahirkan banyak sekali lalu lintas informasi yang serba tak jelas, mana yang valid, mana yang palsu.

Hari ini jalanan kosong, lenggang tanpa hiruk pikuk dan bising suara kendaraan yang biasa mewarnai tiap inci jalan. Gerimis turun menyapa bumi sedari pagi, menghasilkan wangi wangi khas rintikan air hujan dari langit, memeluk debu dari bumi. Biasanya suasana jalanan Jakarta tidaklah begini, jalanan Jakarta yang tidak pernah alfa dari kebisingan kecuali saat lebaran, ternyata Indonesia pun takluk oleh wabah virus corona. Hari ini jalanan tenang, namun aku fikir berisik itu bukanlah menghilang, ia hanya berpindah dari jalanan menuju hati semua orang.

Pemerintah yang nampak kebingungan merumuskan kebijakan, pengusaha yang resah karena beberapa usahanya harus berhenti, hingga kami rakyat kecil resah memikir akan makan apa kami besok dengan keadaan seperti ini.

Virus yang awal pemberitaan berasal dari Negeri China, Wuhan lebih tepatnya, telah mengubah banyak hampir segalanya, bahkan kebiasaan perilaku manusia. Gaya hidup yang dulunya acuh pada kebersihan, baik diri maupun lingkungan. Corona Virus sangat mudah menular. Bahkan obat untuk pasien positif covid-19 ini belum ditemukan. Dokter penemu pertama virus ini saja meninggal dunia. Untuk itu, kita harus berhati-hati.


Ku kayuh terus sepeda beserta somay daganganku sambil berharap ada pelanggan yang akan kutemui, tapi sekarang untuk masuk gang pun cukup sulit karena harus melewati pos penjagaan yang di perketat, bahkan beberapa gang dan perumahan tidak mengizinkan orang asing seperti aku masuk, yang sebenarnya sekedar berjalan melewati rumah-rumah mencari pelanggan sebagai sumber penghidupan. Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini. Hingga minggu-minggu kemudian, wabah virus itu semakin merebak. Mereka panik, pemerintah dan segala aparat berusaha menenangkan masyarakat. Segala bantuan berusaha disalurkan.

Matahari telah tergelincir, gerimis telah hilang sepenuhnya, tersisa beberapa becekan yang menggenang bersama daganganku yang tak kunjung terjual. Sesekali ku tengok daganganku sambil berfikir akan makan apa anak dan istriku esok hari. corona benar benar membuat hampir sebagian besar perekonomian negara ini mendadak berhenti, membuat kami rakyat kecil yang bergantung dari penghasilan harian yang tak menentu semakin terhimpit keadaaan. Bukannya tak mau mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah, namun nyatanya melakukan itu berarti akan membuat kami tak lagi punya sesuap nasi untuk menyambung kehidupan, belum lagi kontrakan yang hampir jatuh tempo memaksaku tetap berjualan seperti biasa.

Hari telah cukup larut, daganganku masih tersisa banyak. Nampaknya harapan telah benar-benar memudar dari diriku, menyisakan kekalutan dan berisik fikiran yang turut memberatkanku. Tadi ku tengok masjid saat waktu ibadah telah tiba, masjid pun tidak lagi melakukan ibadah secara berjamaah, hingga aku bertanya, “kemana aku harus meminta pengharapan? Bukankah Tuhan seharusnya berada di tempat tempat ibadah? Apakah berarti Tuhan telah di kalahkan oleh corona?”, segera kusingkirkan fikiran buruk itu dari kepalaku sambil terus mengayuh sepeda menuju rumah untuk pulang. Aku sudah kehilangan harapanku untuk malam ini dan dengan beberapa receh yang kudapatkan. Aku hanya bisa membeli setengah liter beras dengan seikat kangkung layu, juga sedikit uang untuk menambah uang kontrakan yang hampir jatuh tempo. Tapi tak apa, yang penting anak istriku dapat menganjal perut mereka untuk malam ini dan esok hari di bawah atap yang melindungi mereka.

Sesampainya di rumah, ku jelaskan keadaanku hari ini, hingga aku hanya bisa membawa sedikit hasil termasuk sedikit fikiranku yang menggangu di kepala saat perjalanan tadi kepada istriku, seketika istriku menatap lembut kepadaku sambil tersenyum, “Mas, Gusti Allah itu engga di mana-mana, bukan di masjid, bukan di geraja, bukan juga di wihara. Gusti Allah itu adanya di sini” sambil menunjuk dadaku dan berlalu ke dapur, menyisakan diriku dalam kesendirian dan perenungan dalam. Tiba-tiba pintu rumahku di ketuk, “Assalamualaikan pak Iman”, “oh iya tunggu sebentar” kataku bergegas membuka pintu, ternyata yang datang malam malam begini adalah bu rohimah pemilik kontrakan, “aduh bu masuk masuk, duduk dulu”, “ah ndak perlu, saya kesini cuma mampir aja bentar kebetulan tadi lewat, mumpung lewat dareah sini ya saya sekalian saja ke sini” kata bu Rohimah, “aduh bu, bukannya jatuh tempo nya masih beberapa hari lagi ya bu? Soalnya jujur selama keadaan kaya begini dagangan saya nggak pernah habis bu, maaf bu.” Kemudian bu Rohimah tertawa pelan sambil berkata “bapak Iman ini bisa saja, ya kan bukan karena saya yang punya kontrakan terus tiap kesini cuma mau nagih uang kontrakan saja tho, ini saya ada rezeki berupa sembako buat pak Iman, karena saya tau pasti dimasa sulit begini bukan hal mudah buat pak Iman jualan, sama sekalian saya mau kasih tau buat 4 bulan kedepan pak Iman sama istri tidak usah mikirin buat kontrakan ya, karena itu amanah dari almarhum suami saya buat selalu memberikan apa yang paling baik dan dibutuhkan buat orang yang membutuhkan, jadi pak Iman sabar ya selama keadaan begini sambil terus berikhtiar semoga di lancarkan urusan pak Iman sambil terus berusaha memberikan yang terbaik buat kelurga pak Iman.” setelah berkata begitu bu Rohimah menyerahkan sebuah kantung plastik besar berisi sembako, “terima kasih bu, terima kasih banyak atas kebaikan ibu, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi bu, terima kasih semoga Allah membalas kebaikan ibu dan almarhum bapak dengan balasan yang setimpal ya.” Aku berkata dengan suara luruh, “amin, yasudah saya pamit dulu ya, maaf malem malem begini menganggu, saya pamit ya.” Kemudian bu Rohimah beranjak menyisakan aku dalam haru dan syukur.

Istriku yang sedari tadi mendengar pembicaraan dari dapur datang dan tersenyum sembari berkata “tuh kan, Gusti Allah itu tidak kemana-mana.” Ucapnya, sembari memberi koran yang tadi membungkus kangkung, “coba baca ini,”. Akupun membaca sebuah puisi yang berbunyi seperti ini

Ketika corona datang

Engkau dipaksa mencari Tuhan Bukan di Basilika Santo Petrus Bukan di Ka’bah

Bukan di dalam Gereja Bukan di Masjid

Bukan di Mimbar khotbah Bukan di Majelis Taklim Bukan dalam misa Minggu Bukan dalam sholat Jum’at

Melainkan,

Pada kesendirianmu

Pada mulutmu yang terkunci Pada hakikat yang senyap

Pada keheningan yang bermakna.

Tuhan Mengajarkan Melalui Corona. Mungkin segala kejadian ini ada hikmahnya. Tak semua kejadian memberikan kesakitan, pastilah ada kebahagiaan didalamnya. Cukuplah tabah dalam menghadapinya, ingatlah akan Tuhanmu. Serta selalu menjaga diri dimanapun kalian berada.


Komentar