Cerita Pendek Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia FIP UMJ

 Untuk Mas

Karya: Irene Rahmadini 


“Gitaaa”

“Git, mas pulang”

“Mas bersih-bersih dulu yaaa”

 

Gita tetap tak bergeming, masih sebal dengan Wabib, masnya yang tak pernah mendengarkan pendapatnya akhir-akhir ini. Setelah Wahib selesai bersih-bersih diri, ia menghampiri Gita yang ternyata masih menutup pintu kamarnya.

“Gita, mas udah kelar nih.. keluar dong”

“Gita jangan marah dong sama mas, keluar dulu yuk, ngobrol yuk sama mas” Wahib tetap menunggu Gita keluar dari kamarnya

“Mas udah mandi?!” Teriak Gita dari dalam kamar “Udah Gitaaaa, makanya keluar dulu yuk sebentar”

Gita mengalah, ia keluar kamar pada akhirnya. Bukan karena ingin mengobrol dengan Wahib  sebenarnya, namun ia sudah sangat rindu dengan masnya.

“Bunda sama ayah udah tidur, mas udah makan?”

 

“Udah kok tadi di kantor sebelum pulang” tepat setelah Wahib berkata seperti itu perutnya berbunyi

“Kan mas mah bohong terus sama Gita, Gita masakin ya sebentar” Gita langsung bergegas menuju dapur untuk memasak makanan untuk Wahib

“Ish adek mas yang satu ini masih perhatian banget sama mas, makin sayang” mas Wahib berkata sambil mendubit pipi Gita yang tembam itu

“Maaas, sakit tauuuu..” Gita langsung mengubah ekspresinya menjadi sedikit cemberut karena kesal pipinya kerap kali dicubit oleh Wahib

“Git” panggil Wahib kepada Gita yang menyiapkan makan untuknya, dan Gita hanya menjawab dengan “Hmm?”

“Gita masih marah ya sama mas? Mas kan di Rumah sakit udah jadi bentuk mengabdikan hidup mas dan kamu tau itu giiit” jelas mas Wahib terhadap Gita, karena kemarinpun Gita membahas hal ini, melarang Mas Wahib untuk tidak ke Rumah sakit dalam keadaan pandemi, Gita mengetahui jika itu adalah pekerjaan kakak laki-laki yang dipanggil mas itu, Gita terlalu khawatir dengan keadaan sekarang, ia takut mas satu-satunya yang ia miliki terkena atau terpapar corona dari pasien atau orang-orang disekitarnya.

Gita selalu menahan tangis setiap membahas ini, ia tak suka karena ia tahu hal yang ia larang terhadap masnya tidak mungkin dikabulkan oleh masnya itu. Ia menarik napas sejenak sambil meletakkan telur diatas piring untuk Wahib makan.

“Gita ga marah mas, dan aku juga tau kalo mas gamungkin menuhin maunya Gita buat mas di rumah dulu saat pandemi kaya gini, engga salah kan kalau Gita kecewa sebentar, aku khawatir mas kenapa-napa, kalo mas kenapa-napa Gita harus gimana? Gita gatau Gita harus apa selain larang mas” Gita mengungkapkan apa yang ia pendam beberapa hari terakhir, air matanya bercucuran saat berbicara dengan masnya. Masnya yang sedang makan ketika melihat adik kecilnya, yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi dianggap anak kecil, usia Gita 18 tahun bulan  depan.

“Gitaaa, jangan nangis ya. Percaya sama mas, kalau mas baik-baik aja, mas gaakan kenapa- napa. Gita terus doakan mas ya supaya mas bisa selalu ada buat Gita. Bulan depan Gita ulang tahun, mas belikan sesuatu nanti jangan nangis lagi ya. Adik mas jadi jelek nanti, ga gemas lagi, udah ah mas mau lanjut makan terus kamu tidur ya” Wahib selalu tak tega melihat adiknya menangis, apalagi karenanya. Wahib terus menenangkan Gita sampai gita cukup tenang, bahkan setelah selesai makan Wahib mengantar Gita kekamarnya dan baru beranjak ketika Gita sudah terlelap.

Keesokan harinya Mas Wahib menyempatkan diri mengobrol sebentar dengan Gita sebelum berangkat ke Rumah Sakit, ia hanya ingin menghabiskan waktu senggang yang ia miliki untuk bersama adiknya ini. Sejujurnya Wahib sedikit cemas dengan keadaan pasien Corona yang semakin hari semakin bertambah, tak sedikit kemungkinan ia dapat terpapar virus tersebut. Ia tak ingin melihat Gita sedih, maka dari itu sebisa mungkin ia selalu ceria dan terlihat baik-baik saja meskipun terkadang dirinya lelah agar Gita tak semakin mencemaskan dirinya.

“Mas jangan telat makan ya, minum air mineral, pakai terus maskernya mau ada pasien atau engga” titah Gita kepada mas nya. “Siap adik kecil Mas yang bawel. Mas pasti lakuin itu semua kok, gausah khawatir lagi ya sama mas. Udah cepet abisin sarapannya, mas berangkat dulu ya, kamu belajar yang betul, fokus, meskipun belajarnya dirumah harus tetep pahamin materi, kalau ada yang kurang paham Tanya ke mas, oke?” jawab Wahib, Gita yang sedang menghabiskan makanannya hanya memberikan jempol kepada Wahib. Kemudian Wahib juga tak lupa pamit kepada kedua orang tuanya untuk bergegas berangkat bekerja. “Mas nih bawa, sudah ibu buatkan teh jahe biar kamu ga gampang sakit, jaga diri ya mas, bunda doain anak bunda yang satu ini sehat terus, bunda selalu doain mas yang terbaik” ucap bunda ketika Wahib ingin pamit dengannya yang sedang berada di dapur.


Ketika selesai sarapan dan berbincang sebentar dengan bundanya Gita langsung masuk lagi kekamarnya. Gita menceritakan apa yang menjadi kegelisahannya akhir-akhir ini kepada Tari, sahabatnya lewat telepon “Jadi gitu Tarii, gua harus gimana.. serba salah gasiiih?” ucap Gita setelah selesai cerita dan meminta pendapat Tari. “Hmm, iya sih Git gua kalo jadi lu juga khawatir. Cuma ya gimana yaa, atau ga gini lu jangan panik atau nunjukin rasa khawatir lu ini ke Mas lo, lu santai ajaa, lu tetep support dia biar dia juga kerjanya fokus kan, lu doain dia juga supaya dia sehat terus” Tari berkata sedemikian rupa gua menenangkan Gita. “iya si Tar, Cuma gimana ya, kaya gua harus ngelakuin apaaa gitu biar ngeringanin lah gitu” ujar Gita yang masih belum lega sama sekali. Tari yang sedikit banyak mengerti kegelisahan sahabatnya ini memberikan saran yang mungkin dapat Gita lakukan “Git, atau ga followers di sosial media lo kan lumayan banyak kan, yamungkin ga berpengarus sebesar itu cuma ya lu bisa buat sosialisasi gitulah, konten-konten yang menjurus suruh orang-orang dirumah aja. Kan secara galangsung kalau di rumah pasti penyebaran corona menurun kan, nah otomatis mas lu makin berkurang interaksi sama pasien yang terpapar corona kan. Gimana?, kan kalo corona selesai kita juga bisa cepet ketemu Git. Gua kangen banget asli sama lo hahaha” Gita yang mendengar masukan dari Tari pun berpikir jika yang dikatakan oleh Tari ada benarnya dan tak ada salahnya mencoba. Setelah merbincang kesana-kemari dengan Tari, Gita langsung menyemangati dirinya sendiri.

“Oke gua harus berusaha ga khawatir lagi sama mas, toh mas juga bilang gua harus percaya sama dia. Oke oke gitaaa lo pasti bisa, sekarang lo Cuma harus santai bikin konten buat ingetin orang-orang kalau di rumah aja bagi orang-orang yang bisa itu pilihan paling tepat. Ini gabakal ada apa-apa kok sama mas, dia kuat. Aaa gua ga mau kaya giniii pokoknya gua harus semangat bikin konten ini demi mas” Gita berbicara pada dirinya sendiri. Semenjak saat itu hampir setiap hari Gita membagikan ajakan untuk dirumah saja, membagikan beberapa saran, dan memberikan apa saja yang bisa dilakukan selama pandemi ini. Sebisa mungkin Gita selalu menyibukkan diri agar rasa khawatir dengan masnya itu berkurang.

Akhir-akhir ini Gita berkomunikasi dengan Wahib hanya melalui gawai. “Mas ga pulang lagi malam ini? Udah satu minggu lebih mas selalu nginep dirumah sakit loh. Mas ga kangen Gita emang? mas makan apa? Istirahatnya cukup ga? Mas baik-baik aja kan?” cecar Gita kala melakukan telepon tatap muka kini dengan Wahib “Gita, satu-satu dong nanyanya haha, iya mas gapulang lagi malam ini, mas kangen sama Gita, bunda, ayah, kangen banget malah. Cuma mas pikir kalau mas terus bolak-balik terlalu makan waktu, Gita kan tau kalau jarak dari Rumah ke Rumah sakit tempat mas kerja jauh, kalau ada sesuatu yang mendesak mas langsung bisa tanganin, apalagi kondisinya lagi kaya gini kan, Gita pasti ngerti. Mas baik-baik aja kok, Gita doain mas terus ya, tadi mas juga udah kasih kabar ke bunda dan ayah kok” jelas Wahib kepada Gita. “minggu depan harus pulang, ga lupa kan?” Wahib hanya tersenyum dan menjawab “iya, Gita ulang tahun kan? Mas mana mungkin lupa. Udah dulu ya, nanti mas telepon lagi, kitakan


telponan juga setiap hari Gitaaaa” setelah mereka selesai telepon Gita langsung memikirkan tips apa yang akan besok ia bagikan di laman sosial medianya.

Setiap hari Gita selalu menantikan mas nya untuk pulang dan sangat berharap di hari ulang tahunnya ia dapat berkumpul lengkap dengan keluarganya. Namun 2 hari sebelum Gita ulang tahun Gita mendengar kabar yang membuatnya hancur, Wahib telah tiada. Ketika ia selesai membuat video membagikan tips untuk sosial media miliknya, bunda menangis tersedu-sedu menghampiri Gita dikamar dan memberi tahu kepada Gita bahwa mas nya telah tiada. Bundanya pun tahu bahwa Wahib terkena virus corona sampai akhirnya ia meninggal, maka dari itu ia tidak pulang kerumah sama sekali akhir-akhir ini. Wahib bukan sibuk mengurus pasien, namun ia yang menjadi pasien. Bunda juga menjelaskan mengapa bundanya tak diperbolehkan memberikan kabar ini kepada Gita, Wahib terlalu cemas dengan adiknya. Bunda dan ayah yang telah mengetahui kabar Wahib jauh lebih dahulu selalu menutupi hal ini karena permintaan Wahib sendiri, bunda juga kerap kali menahan sedih jika Gita selalu bicara kerinduannya kepada masnya itu. Ketika Gita mendengar kabar itu awalnya Gita tak percaya, namun benar adanya jika masnya itu telah tiada, Gita marah kepada bunda dan ayahnya karena tidak memberi tahu dirinya akan hal ini. Bunda dan ayah pun mengerti bahwa Gita kecewa. Sejak saat itu Gita keluar kamar kalau benar-benar haus dan lapar saja, itupun setelah diceramahi Tari. Tari yang mengetahui setelah diceritakan oleh Gita hanya dapat menengkan Gita pada hari itu, namun ketika tahu Gita tak keluar kamar Tari memberi pengertian terhadap Gita “Git, tau kalo lu lagi sesedih dan sekecewa ini, tapi bunda sama ayah lu juga sama, makan ya. Seenggaknya lu tetep harus sehat. Mas lu yang ada sedih kalo liat lu kaya gini Git”. Gita selalu mencoba baik-baik saja namun masih belum bisa berdamai dengan keadaan.

Setelah dua bulan sejak saat itu Gita mulai dapat menerima keadaan. Gita harus melakukan sesuatu agar hidupnya tetap berjalan, ia harus bersyukur bahwa ia masih memiliki ayah dan bundanya yang sangat tegar dan Tari yang selalu ada untuknya. Setahun setelahnya Gita disibukkan dengan kuliahnya dan benar-benar fokus untuk membuat kampanye dan bersosialisasi tentang pentingannya menghargai tenaga medis, menjaga kesehatan dan hal-hal serupa seperti itu. Semua ini bentuk terima kasih Gita terhadap masnya, hidup Gita skarang ia dedikasikan untuk kampanye dan sosialisasi dan secara tidak langsung terus membuat Gita berdamai dengan keadaan dan bahagia.


Komentar