Cerita Pendek Mahasiswa Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia FIP UMJ

Perusak Jalannya Kebahagiaan

Karya: Amelia Dwi Damayanti

 

            Seperti hari-hari sebelumnya, Binar Malaika seorang wanita cantik, jujur, pintar, ramah, sopan, rendah hati, dan penolong menjalani hari-harinya dengan penuh ceria dan semangat. Ia adalah seorang dokter spesialis paru-paru yang bekerja di salah satu rumah sakit yang berada di Yogyakarta. Binar merupakan anak kedua dari dua bersaudara, kakak laki-lakinya sudah meninggal karena penyakit paru-paru ketika Binar berusia 7 tahun. Pada saat itu kondisi keuangan keluarga Binar memang sangat buruk, ayahnya bangkrut dari perusahaan yang dijalaninya. Sehingga, keluarganya tidak mampu untuk membayar biaya rumah sakit tempat kakaknya Binar di rawat dan nyawanya pun tidak terselamatkan. Melihat kondisi kakaknya yang mempunyai penyakit paru-paru, pada saat itu Binar memutuskan jika nanti sudah besar ia ingin menjadi seorang dokter spesialis paru-paru. Binar ingin membantu dan menyelamatkan nyawa orang-orang yang terkena penyakit tersebut, selain itu jiwa penolong yang tertanam dalam diri Binar memang sangat besar. Ibu Binar, Larasati. Pekerjaanya hanya sebagai ibu rumah tangga. Larasati sangat menyayangi anak-anaknya, apalagi ketika anak pertamanya pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Larasati sangat terpukul dan kini harapannya hanya ada pada Binar. Selain itu, Larasati dapat di bilang sebagai Ibu yang tidak pernah memarahi anaknya, jika anaknya melakukan kesalahan ia tak pernah marah, ia hanya tersenyum dan menasehati anaknya secara baik-baik. Berbeda dengan Ayahnya, Subroto. Dalam mendidik anaknya ia selalu tegas. Harapannya, jika nanti anaknya sudah dewasa dapat tumbuh dengan karakter yang kuat, berani, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

            Hari demi hari berlalu, tidak terasa sudah 15 tahun lebih kakak Binar pergi untuk selamanya. Kini Binar sudah berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter spesialis paru-paru. Tidak mudah bagi Binar untuk mewujudkan impiannya, namun karena Binar mempunyai semangat juang yang tinggi, maka mimpi tersebut dapat diwujudkan. Terlebih lagi, kondisi keuangan keluarganya pun dari tahun ke tahun sangat membaik. Sehingga keluarganya mampu untuk menyekolahkan Binar sampai menjadi dokter. Binar sangat bersyukur menjadi dokter, baginya pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang sangat mulia karena dapat menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa orang lain.

            Melihat Binar semakin beranjak dewasa, orang tuanya sangat menginginkan Binar mempunyai pendamping hidup untuknya. Hingga, pada saat mereka sedang berkumpul untuk sarapan pagi, Subroto menanyakan kepada Binar.

“Nak, kamu kan sudah semakin dewasa, apa kamu tidak ingin mencari pasangan hidup?” tanya Subroto.

“Iya nak, betul apa kata ayahmu… umur ibu dan ayah juga semakin menua, kami sudah tidak sabar untuk menimang cucu…” kata Larasati.

Sambil tersenyum manis Binar menjawab “Iya ayah ibu, Binar mengerti apa yang ayah ibu inginkan. Tetapi, untuk mencari pasangan hidup, Binar tidak ingin bermain-main. Binar ingin mencari laki-laki yang bertanggung jawab, yang memang sudah siap untuk menikah dan menjalani hidup suka dan duka bersama Binar.”

“Iya nak, ibu mengerti. Tetapi, jika kamu merasa sudah menemukan pasangan yang tepat untukmu, segera beritahu kami ya nak, kami selalu mendukung apapun keputusanmu” ucap Larasati.

“Iya ibu, terima kasih. Binar pasti memberitahu ayah dan ibu, doakan saja yang terbaik untuk Binar ya bu...” balas Binar dengan tersenyum.

            Sebenarnya Binar sudah mempunyai kekasih sejak 5 tahun lalu, tetapi Binar tidak memberitahukan kepada ayah dan ibunya. Karena jika sudah berurusan dengan lelaki yang masuk ke dalam hidupnya, Binar sangat tertutup sekali. Hanya teman terdekatnya saja yang mengetahuinya. Binar menjalin kasih dengan Bimo ketika mereka duduk dibangku SMA kelas 3. Sayangnya setelah lulus SMA, Bimo memilih untuk melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Italia. Karena orang tuanya menginginkan Bimo untuk kuliah di luar negeri. Mulai dari situ, Binar dan Bimo jarang sekali bertemu. Jika ditanya bagaimana hubungannya bisa langgeng sampai sekarang, Binar dan Bimo pun tidak tahu jawabannya, hanya rasa percaya satu sama lain lah yang menjadi kunci utamanya. Setelah lulus kuliah Bimo bekerja di salah satu perusahaan batu bara yang terdapat di Italia. Setiap 6 bulan sekali perusahaan Bimo selalu mengekspor barang dari Indonesia, oleh sebab itu mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk bertemu, melepaskan rasa rindu yang sudah tidak dapat tertampung lagi oleh pemiliknya.

            Tidak terasa, besok adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh mereka. Seperti biasa, mereka bertemu di sebuah cafe yang berada di Yogyakarta, dimana cafe tersebut merupakan tempat favorit yang mereka datangi ketika dulu Bimo belum pindah ke luar negeri. Binar sangat senang sekali, ia sudah tidak sabar untuk bertemu hari esok. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kebetulan hari ini Binar tidak ada dinas di rumah sakit, oleh karena itu Binar ingin menghabiskan waktunya seharian bersama Bimo. Binar segera menuju Bandara Internasional Adisutjipto untuk menjemput Bimo, kebetulan rumah Binar memang tidak jauh dari bandara tersebut. Terlihat dari raut wajah mereka berdua, sangat berseri-seri dan bahagia sekali. Tidak ingin berlama-lama di bandara, mereka pun langsung pergi menuju cafe tersebut. Sesampainya di cafe, Bimo memesan 2 steak daging dengan saus barbeque dan 2 gelas milk shake.

            Ternyata niat Bimo bertemu dengan Binar bukan hanya untuk melepas rindu saja, melainkan Bimo datang bersama keluarganya untuk melamar Binar. Bimo sengaja tidak memberitahu Binar terlebih dahulu, Bimo ingin memberikan kejutan untuk Binar. Untung saja saat di bandara orang tua Bimo sudah lebih dahulu pergi ke hotel. Kalau tidak, rencana Bimo akan gagal. Walaupun mereka jarang bertemu, tetapi mereka tidak pernah merasa canggung.

“Permisi, apa ini meja tuan Bimo?” tanya pelayan.

“Iya benar mba” jawab Bimo

“Ini mas pesanannya” kata pelayan tersebut sambil meletakkan makanan dan minumannya.

“Baik, terima kasih” sahut Bimo dan Binar berbarengan.

Sambil menikmati makanan tersebut, Bimo menanyakan Binar tentang pekerjaannya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, tidak ada kendala kan?”

“Iya alhamdulillah tidak ada kendala kok, aku malah sangat senang dapat membantu menyembuhkan orang-orang yang sedang sakit” jawab Binar dengan tersenyum.

“Alhamdulillah syukur kalau begitu aku jadi ikut senang, oh iya aku mau menanyakan tentang hubungan kita, aku ingin melamarmu, apa kamu siap?” tanya Bimo dengan memasang wajah sangat serius.

Binar sudah menduga, dari awal memesan makanan wajah Bimo memang terlihat serius sekali, pasti ada yang ingin Bimo katakan, benar saja tiba-tiba Bimo ingin melamarnya, gumam Binar dalam hati.

Binar yang sedang menikmati makanan yang di pesannya tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Bimo.

“Uhukk… Uhukk... Apa? Kamu serius? Kamu sedang tidak bercanda kan?” tanya Binar dengan wajah kaget.

“Kamu kira wajahku ini sedang bercanda?” jawab Bimo dengan sedikit kesal.

“Hmm yaudah deh, kalau kamu memang serius sama aku, aku .....”

Tiba-tiba Bimo langsung memotong jawaban Binar sambil tertawa karena melihat wajah Binar yang tiba-tiba memerah.

“Eh tapi aku bercanda sayang, aku engga serius kok hehehehe, maafin aku yaa…”

Setelah tahu jawaban Bimo itu bercanda, Binar sangat kesal sekali kepada Bimo. Padahal Binar sudah serius ingin menjawab pertanyaan Bimo, kalau Binar menerima lamaran Bimo dengan senang hati. Karena Binar merasa Bimo adalah laki-laki yang baik, yang bertanggung jawab, sabar, romantis, selalu melindungi dan menyayangi Binar, pokoknya sesuai dengan apa yang Binar inginkan.

“Engga aku maafin, aku marah sama kamu!!!” jawab Binar dengan wajah kesal.

“Yah kok gitu, aku kan cuma bercanda sayang, maafin aku yaaa…” kata Bimo dengan wajah memelas.

“Yaudah aku maafin, tapi ada syaratnya. Habis makanan ini selesai kamu harus ajak aku jalan-jalan!!!” jawab Binar dengan nada masih sedikit kesal.

“Siappp nyonya Binar cantik” balas Bimo dengan nada merayu.

            Setelah selesai makan, Bimo menepati janji untuk mengajak Binar jalan-jalan, Bimo lebih memilih untuk pergi ke Hutan Pinus Pengger karena tempat tersebut sangat terkenal di Yogyakarta. Fasilitasnya yaitu ada tangan raksasa, rumah pohon, jembatan kayu dan yang terbaru yaitu rumah piramid ala Indian yang unik. Di Hutan Pinus Pengger letak spot selfienya cukup tinggi, selain dapat berfoto kita juga dapat mengamati pemandangan hijau yang luas, yang pastinya dapat menyamankan saraf mata. Selain itu, tempat ini memang sangat cocok untuk dikunjungi bersama kekasih. Tidak terasa, sudah cukup lama berada di tempat ini. Bimo takut kemalaman untuk sampai rumah Binar, maka dari itu Bimo mengajak Binar untuk pulang, karena rencana Bimo malam ini adalah pergi ke rumah Binar untuk melamar Binar. Sedangkan orang tua Bimo, nanti akan menyusul ke rumah Binar.

            Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai di rumah Binar. Binar langsung mengajak Bimo untuk masuk ke dalam rumahnya, sekaligus ingin mengenalkan Bimo kepada ayah dan ibunya.

“Assalamu’alaikum bu…” ucap Binar sambil mengetuk pintu rumahnya.

“Wa’alaikumsalam nak…” jawab Larasati sambil membukakan pintu.

Larasati cukup kaget melihat ada laki-laki di sebelah Binar. Karena sebelumnya Binar belum pernah mengajak laki-laki untuk ke rumahnya. Namun, Binar meyakinkan ibunya dengan tersenyum dan langsung mengajak Bimo untuk masuk ke dalam rumahnya. Binar dan Bimo langsung duduk di bangku ruang tamu, sedangkan ibunya masuk ke dalam untuk membuatkan teh hangat dan memanggil Subroto untuk menemui Binar. Setelah ayah dan ibunya sudah kumpul di ruang tamu, Binar menceritakan tentang Bimo dan tentang hubungan mereka berdua. Awalnya orang tua Binar tidak menyangka Bimo adalah kekasihnya Binar dan sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Namun Subroto dan Larasati sangat senang mendengarnya, karena Binar sendiri terlihat sangat yakin dengan Bimo. Di tengah-tengah percakapan antara Binar, Bimo, dan orang tua Binar. Tiba-tiba orang tua Bimo datang. Binar sangat kaget, karena Bimo tidak bilang kalau orang tuanya akan ikut pulang juga ke Indonesia. Tidak butuh waktu lama, Bimo langsung memberi tahu tujuan dari Bimo dan orang tuanya datang ke rumah Binar.

“Sebelumnya saya minta maaf kepada om dan tante, jika kehadiran saya dan orang tua saya mengganggu waktu om dan tante. Seperti yang tadi sudah Binar jelaskan saya adalah kekasihnya Binar. Jika om dan tante mengijinkan, saya ingin melamar Binar.” ucap Bimo dengan wajah serius dan sangat yakin.

Mendengar Bimo berbicara seperti itu, Binar sangat terharu karena tidak menyangka Bimo benar-benar serius kepada Binar.

“Iya nak Bimo, om sangat mengizinkan karena niat nak Bimo kesini sangat baik untuk melamar anak saya” jawab Subroto dengan tersenyum.

“Tante juga sangat mengizinkan nak, tetapi tante menyerahkan kepada Binar saja, Bagaimana Binar, apa kamu menerima lamaran dari Bimo” tanya Larasati.

Jlebbbb… kali ini Binar benar-benar sangat grogi untuk menjawabnya. Bagaimana tidak grogi, tangan Binar benar-benar dingin ditambah dengan wajah yang terlihat sangat pucat. Tetapi, Binar sangat bahagia sekali.

“Iya ayah, ibu. Binar menerima lamaran dari Bimo” jawab Binar dengan tersenyum dan sangat grogi.

Mendengar jawaban dari orang tua Binar dan Binar, Bimo dan keluarganya sangat bahagia. Tiba-tiba ayah Bimo menyarankan untuk langsung menentukan tanggal pernikahannya.

“Alhamdulillah terima kasih untuk Binar dan orang tua Binar karena sudah menerima lamaran dari anak saya. Untuk itu, bagaimana jika malam ini juga kita menentukan tanggal pernikahan untuk anak kita?”

“Bagus tuh, saya sangat setuju” sahut Subroto.

Mereka pun akhirnya menyetujui saran dari ayah Bimo. Karena Binar dan Bimo aslinya memang orang Yogyakarta, maka mereka menentukan tanggal pernikahannya dengan menggunakan hari weton. Yaitu, 1) Dengan melihat neptu. Dalam tahap awal, calon pengantin akan dilihat neptu atau nilainya. Caranya dengan menghitung berapa jumlah huruf dari nama kedua calon pengantin. Dan cocokkan pula dengan tanggal, bulan, tahun lahir dan bila perlu sertakan jam lahir. 2) Cocokkan dengan primbon. Dari hasil yang telah dihitung tadi akan dicocokkan dengan primbon. Primbon sendiri yaitu buku panduan yang berisi tentang perhitungan dan ramalan kehidupan manusia meliputi mimpi hingga jodoh. 3) Apabila calon pengantin memiliki weton yang sama disarankan menikah di hari lain. Maksudnya apabila calon pengantin pria lahir saat wage, dan calon pengantin wanita juga sama lahir saat wage. Maka dianjurkan hari pernikahan dilaksanakan pada hari lain seperti pahing, pon atau kliwon, kecuali wage. 4) Untuk memperoleh keselamatan dan kelancaran. Selain untuk mendapatkan kelanggengan, makna lain yang terkandung dalam menentukan hari baik ialah untuk keselamatan dan kelancaran segala hal yang terdiri dari lima poin penting. Lima poin penting yang dimaksud adalah kebutuhan mencukupi sandang-pangan-papan, tercapainya kesehatan lahir batin, mendapat kedudukan yang baik, keselamatan jiwa, dan menyangkut ketika menghadapi ajal.

            Setelah selesai menghitung hari pernikahan dengan menggunakan adat Jawa, akhirnya ditemukan tanggal 15 Maret 2020. Jika dihitung hari ini, masih ada waktu sekitar 3 bulan lagi. Akhirnya kedua belah pihak keluarga menyetujuinya. Binar dan Bimo juga bisa lebih matang untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.00 Bimo dan orang tuanya pamit untuk kembali ke hotelnya. Binar pun mengantarkan Bimo dan orang tuanya sampai ke depan pintu gerbang rumahnya, sampai Bimo dan orang tuanya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah Binar. Sepanjang malam, Binar hanya memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Binar masih tidak menyangka, kalau malam ini Bimo benar-benar melamar Binar, bahkan sebentar lagi mereka akan mengadakan acara pernikahan. “Sungguh aku masih tidak menyangka, dan malam ini aku merasa sangat bahagia.” gumam Binar dengan senyum bahagia.

            Akibat ulah Binar semalaman, pagi ini Binar bangun kesiangan. Padahal hari ini keluarga Binar dan Bimo akan pergi ke makam untuk berziarah, khususnya Binar ingin meminta restu kepada almarhum kakaknya. Untung saja Bimo dan orang tuanya sedikit terlambat datang ke rumah Binar. Jika tidak, Binar akan terkena omelan dari Bimo karena tidak biasanya Binar bangun kesiangan seperti ini. Setelah selesai dari makam, keluarga Bimo mengajak keluarga Binar untuk makan bersama. Tujuannya agar lebih akrab, sekaligus Bimo ingin membicarakan mengenai foto prewedding yang rencananya akan dilakukan esok hari. Karena, Bimo di beri izin oleh perusahaannya hanya tiga hari saja untuk pulang ke Indonesia. Padahal Bimo sudah meminta izin selama satu minggu, namun karena Bimo bekerja di bagian CFO (Chief Financial Officer) yaitu yang bertanggung jawab terhadap segala urusan laporan keuangan perusahaan, maka dari itu Bimo tidak dibolehkan izin selama satu minggu. Sedangkan orang tua Bimo juga harus balik ke Italia untuk mengurusi bisnisnya. Akhirnya keluarga Binar pun setuju untuk melakukan foto prewedding esok hari. Setelah itu, keluarga Binar dan keluarga Bimo memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, untuk menyiapkan hari esok.

            Hari ini Binar dan Bimo benar-benar terlihat sangat berbeda. Binar sangat cantik dengan mengenakan kebaya yang dipakainya, ditambah dengan sanggul yang menjadikan ciri khas adat jawa. Bimo juga terlihat sangat tampan sekali dengan memakai baju beskap, ditambah dengan aksesoris-aksesoris adat jawa yang dipakainya. Mereka terlihat sangat serasi dan sudah cocok menjadi pasangan suami istri. Setelah selesai foto sesi pertama, mereka melanjutkan dengan mengganti pakaian ke dua dan ketiga. Setelah itu, mereka harus menunggu hasil foto tersebut jadi, kurang lebih satu bulan. Sayangnya, Bimo tidak bisa menemani Binar untuk mengambil hasil fotonya, karena besok Bimo harus kembali ke Italia. Binar juga tidak merasa keberatan jika harus mengambilnya sendiri, karena ada orang tua Binar yang setia menemani Binar kemana pun Binar mau. Hari ini juga mereka mencari wedding organizer, karena mereka berdua ingin acara pernikahannya memang benar-benar disiapkan dengan matang, maka dari itu mereka sudah mencari wedding organizer dari jauh-jauh hari.

            Sepertinya pagi ini berbeda. Wajah Binar nampak sedih sekali, karena hari ini Bimo akan meninggalkan Binar. Mereka akan bertemu lagi dua minggu sebelum hari pernikahan. Walaupun tidak bertemu hanya beberapa bulan saja, tetapi Binar merasa sangat sedih sekali. Bimo melihat tingkah laku Binar seperti ada yang aneh. Binar meminta agar Bimo tetap menjaga kondisi tubuhnya. Binar tidak ingin Bimo terlalu sibuk dengan pekerjaan yang dapat membuat Bimo jatuh sakit, dan sebelum Bimo menaiki pesawat, Binar meminta Bimo untuk mencium kening Binar dan memeluk Binar. Binar memeluknya dengan sangat erat, sampai-sampai Bimo kesulitan untuk bernafas. Tetapi yang ada dipikiran Bimo, mungkin Binar masih merindukan Bimo, maka dari itu Binar bertingkah seperti itu. Tidak lama, pesawat yang dinaiki Bimo dan orang tuanya akan segera berangkat. Bimo tersenyum dan mengucapkan kata perpisahan kepada Binar. “Sudah, jangan sedih lagi ya sayang, aku akan kembali ke Indonesia untuk menemuimu dan aku pasti sangat merindukanmu. Sampai jumpa, aku mencintaimu Binar Malaika.” Binar tersenyum dan terharu mendengar perkataan Bimo, lalu menjawab “Sampai jumpa, aku juga sangat mencintaimu Bimo Prasetyo.”

            Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Binar akan kembali bekerja. Binar terlihat sangat semangat. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Binar selalu tersenyum. Mungkin karena pagi ini Bimo menghubungi Binar untuk membangunkannya dan memberi semangat kepada Binar. Sesampainya di rumah sakit, tiba-tiba teman Binar berlari sambil berteriak.

“Binarrrr, kamu sudah lihat berita belum?”

“Ada apa? Berita apa? Hari ini aku belum melihat berita apa-apa Ran...” jawab Binar kebingungan.

“Itu loh, salah satu kota di China ada virus yang katanya sangat mematikan. Mmm... namanya apa yah, sebentar aku lupa??? Oh iya, namanya virus corona. Dan virus itu sudah memakan korban banyak.” kata Rana dengan nada panik.

“Virus corona? Aku baru mendengar namanya Ran, nanti deh aku cari tahu tentang virus itu. Sudah, kamu jangan panik dulu ya. Kita doakan saja, semoga virus itu segera hilang dan tidak menyebar luas, aamiin” jawab Binar sambil menenangkan Rana.

“Iya aamiin, ya sudah kalau begitu kita lanjut bekerja yuk” sahut Rana.

 

Kemudian, mereka melanjutkan pekerjaannya. Saat memasuki waktu istirahat, tiba-tiba Binar teringat dengan virus corona yang diberi tahu oleh Rana. Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, Binar langsung mencari informasi tentang virus corona di salah satu artikel.  “Dikutip dari Center for Disease Control and Prevention, cdc.gov, virus corona (covid-19) merupakan jenis virus yang diidentifikasi sebagai penyebab penyakit pada saluran pernapasan, yang pertama kali terdeteksi muncul di Kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Kemudian dilaporkan bahwa banyak pasien yang menderita virus ini dan ternyata terkait dengan pasar hewan dan makanan laut tersebut. Orang pertama yang jatuh sakit akibat virus ini juga diketahui merupakan para pedagang di pasar tersebut yang menjual hewan liar seperti ular, kelelawar, dan ayam. Mereka menduga virus corona baru ini hampir dapat dipastikan berasal dari ular. Diduga pula virus ini menyebar dari hewan ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia. Adapun gejala umum yang menandakan seseorang terinfeksi virus corona yaitu: demam (suhu tubuh berada diatas 38 derajat celcius), batuk, dan sesak napas.” Setelah Binar membaca artikel tersebut, Binar sangat kaget, ternyata virus corona benar-benar sangat berbahaya, apa lagi sudah ada 1.000 lebih korban jiwa.  Binar berharap semoga virus tersebut segera hilang dan tidak menyebar ke Indonesia. Kemudian Binar melanjutkan waktu istirahatnya untuk menemui Rana dan makan siang bersama.

            Seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa sudah memasuki bulan ke dua di tahun 2020. Dimana, usia Binar semakin dewasa dan tahun ini juga Binar akan menikah dengan laki-laki yang sangat ia cintai. Waktu menuju pernikahan Binar dan Bimo tinggal 1 bulan lagi. Karena posisi Bimo yang berada di luar negeri, maka Binar sangat sibuk menyiapkan segala hal untuk pernikahannya. Selain itu, Binar juga harus membagi waktunya, karena akhir-akhir ini banyak sekali pasien yang harus Binar tangani. Seminggu kemudian, salah satu stasiun televisi Indonesia tiba-tiba menginformasikan ada beberapa orang yang di duga terinfeksi virus corona. Ternyata dugaan tersebut benar, setelah orang tersebut di uji laboratorium, hasilnya adalah positif. Dengan munculnya berita tersebut, banyak masyarakat Indonesia yang panik. Bahkan, setiap harinya jumlah yang terinfeksi virus tersebut bertambah banyak. Sampai-sampai, Binar menjadi jarang pulang ke rumah karena banyaknya pasien yang terinfeksi virus tersebut. Ternyata, virus tersebut sudah menyebar hampir ke seluruh negara dengan waktu yang sangat cepat dan sudah memakan korban hingga puluhan ribu.

            Semakin menyebarnya virus tersebut, Bimo sangat mengkhawatirkan kondisi calon istrinya. Karena, posisi Binar saat ini sebagai garda terdepan untuk membantu menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus corona. Apalagi, mereka akan segera menikah. Kini, kondisi di seluruh dunia menjadi gawat darurat. Banyak negara-negara yang sudah menerapkan lockdown, untuk mengurangi jumlah penyebaran virus tersebut, termasuk negara Italia yang Bimo tinggali. Lockdown mengharuskan sebuah wilayah menutup akses masuk maupun keluar sepenuhnya. Masyarakat di wilayah yang diberlakukan lockdown tidak dapat lagi keluar rumah dan berkumpul, sementara semua transportasi dan kegiatan perkantoran, sekolah, maupun ibadah akan dinonaktifkan. Negara Italia pada saat itu ditetapkan sebagai negara dengan tingkat penyebaran covid-19 tertinggi di Eropa atau nomor dua di dunia setelah China. Oleh sebab itu, Bimo tidak bisa pulang ke Indonesia. Karena, bandara Italia di tutup selama dua bulan. Walaupun negara Indonesia kondisinya belum separah Italia, namun bandara di Indonesia juga ditutup. Dengan kondisi seperti ini, masyarakat di seluruh dunia banyak yang mengalami kelaparan. Hal ini disebabkan, banyaknya pegawai yang di phk atau dipulangkan ke rumah sementara karena perusahaannya tidak mempunyai pemasukan. Dengan mempertimbangkan berbagai kendala yang berkaitan dengan penyebaran virus tersebut. Bimo dan keluarganya memutuskan untuk menunda acara pernikahannya. Bimo berusaha menghubungi Binar untuk memberitahu penundaan acaranya, namun tidak ada jawaban dari Binar. Karena Binar memang sangat sibuk dan tidak sempat untuk membuka ponselnya. Pada akhirnya, Bimo mencoba untuk menghubungi orang tuanya Binar, orang tua Binar pun setuju dengan penundaan tersebut. Bimo juga menanyakan bagaimana kondisi Binar pada orang tuanya.

 “Bagaimana kondisi Binar bu, apa Binar baik-baik saja? Soalnya Binar tidak bisa dihubungi dari kemarin, Bimo sangat khawatir bu...”

“Kondisi Binar baik-baik saja nak, namun akhir-akhir ini Binar memang jarang pulang ke rumah. Binar sangat sibuk karena banyak pasien yang harus ditangani. Kita berdoa saja yak nak, semoga kita selalu di lindungi oleh Tuhan. Kamu juga jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Salam dari kami buat orang tua mu” jawab Larasati.

“Baik bu, ibu sama ayah juga jaga kesehatan yaa. Salam juga dari keluarga kami untuk ibu dan ayah, maafin Bimo yaa bu karena Bimo belum bisa pulang ke Indonesia” ucap Bimo dengan nada sedih.

“Iya nak, tidak apa-apa. Kami memaklumi, karena sekarang kondisinya sangat gawat darurat. Lebih baik kamu di rumah saja dulu, jangan kemana-mana.” jawab Larasati.

“Iya bu terima kasih, kalau begitu Bimo akhiri dulu ya bu teleponnya. Selamat malam bu, assalamu’alaikum” ucap Bimo.

“Wa’alaikumsalam nak” sahut Larasati.

            Setelah Bimo mengetahui kabar Binar baik-baik saja, Bimo agak sedikit lega. Namun, Bimo masih khawatir karena belum mendengar sendiri jawaban dari Binar. Karena, sudah seminggu lebih Binar tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi. Bimo ingin menanyakan kepada teman Binar, namun Bimo tidak punya nomor teman-temannya, karena belum lama handphone Bimo rusak dan sekarang Bimo memakai handphone barunya. Setelah Bimo berusaha menghubungi Binar berkali-kali, akhirnya Binar mengangkat teleponnya. Karena pada saat itu Binar baru sempat untuk melihat teleponnya.

“Tutt...tutt…tutt... Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, silahkan mencoba beberapa saat lagi…”

“Tutt...tutt…tutt... *terhubung* Hallo Binar, assalamu’alaikum” ucap Bimo dengan penuh khawatir.

“Iya Bimo, wa’alaikumsalam” jawab Binar dengan nada lelah.

“Bagaimana kabarmu sayang, baik-baik saja kan? Kamu tidak kenapa-kenapa kan? Aku sangat mengkhawatirkanmu” tanya Bimo.

“Aku baik-baik saja kok, maafin aku belum sempat mengabarimu. Aku sangat sibuk merawat pasien-pasienku. Kamu jaga kesehatan yah, jangan kemana-mana, tetap di rumah saja. Aku sangat mencintaimu” jawab Binar.

“Iya sayangg, kamu juga yah. Tetap hati-hati, jaga jarak. Aku engga mau kamu kenapa-kenapa. Oh iya, ada yang ingin aku sampaikan ke kamu” balas Bimo.

“Iya apa sayang?” jawab Binar.

“Untuk acara pernikahan kita, kalau diundur engga kenapa-kenapa kan? Soalnya aku belum bisa pulang ke Indonesia, karena Bandara disini ditutup. Aku juga sudah bilang ke orang tua kamu. Maafin aku ya sayang” ucap Bimo dengan nada sedih.

“Iya, tidak apa-apa. Aku juga mengerti, apalagi virus ini sudah menjadi pandemi. Maka cara yang terbaik yaitu ditunda dulu. Sudah dulu ya sayang, aku harus kembali bekerja. Jaga diri kamu baik-baik, aku sangat mencintaimu” balas Binar dengan nada sedih dan berusaha untuk tidak menangis.

“Jaga diri kamu baik-baik juga ya sayang. Aku sangat mengkhawatirkanmu dan aku juga sangat…” jawab Bimo dengan khawatir.

            Belum selesai Bimo berbicara, tiba-tiba Binar sudah mematikan teleponnya. Binar sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, Binar menangis tersedu-sedu. Ternyata Binar berbohong kepada Bimo dan juga kepada orang tuanya. Saat ini Binar sedang tidak baik-baik saja. Binar positif terinfeksi virus corona karena tertular oleh salah satu pasiennya. Menjadi garda terdepan dalam menangani pasien virus corona memang bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Rasa cemas, takut, dan khawatir tertular virus berbahaya ini selalu tersemat di benak para tenaga medis. Apalagi ancaman virus corona memang nyata dan bisa menjangkit siapa saja. Kini, Binar sedang di rawat di rumah sakit tempat ia bekerja. Binar sengaja tidak memberi tahu hal tersebut kepada Bimo dan orang tuanya. Ketika kondisinya semakin memburuk, ia mulai jarang menghubungi keluarganya di rumah. Karena Binar tidak ingin melihat orang yang sangat ia sayangi sedih. Binar juga sudah meminta kepada pihak rumah sakit dan teman-temannya untuk merahasiakan kondisinya. Sudah seminggu lebih Binar di rawat, namun kondisinya semakin hari semakin memburuk. Binar hanya bisa berserah diri kepada yang Maha Pencipta dan memohon agar segera diberi kesembuhan. Hingga saat ini, penyebaran virus corona khususnya di Indonesia semakin meningkat. Banyak masyarakat yang masih menyepelekan virus tersebut. Padahal, sudah banyak bukti orang yang meninggal dunia karena terinfeksi virus tersebut. Banyak pula masyarakat yang tidak menghiraukan anjuran dari pemerintah untuk tetap di rumah saja, jaga jarak, selalu memakai masker saat keluar rumah dan selalu mencuci tangan.

            Ketika kondisi Binar sangat memburuk, akhirnya pihak rumah sakit memberi tahu kepada orang tua Binar. Saat mengetahui kondisi Binar, orang tua Binar sangat kaget. Ternyata firasat ibu Binar memang benar, bahwa anaknya tidak baik-baik saja. Orang tua Binar ingin sekali melihat kondisi Binar saat ini, namun pihak rumah sakit tidak mengizinkannya. Karena sangat berbahaya untuk tertular. Lalu, orang tua Binar segera menghubungi Bimo. Bimo tidak percaya ketika diberi tahu kabar tersebut. Bimo yakin orang tua Binar pasti berbohong. Namun, setelah orang tua Binar meyakinkan Bimo. Akhinya Bimo percaya, Bimo langsung meneteskan air mata, Bimo tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang. Di saat calon istrinya sedang menderita, Bimo tidak berada di sampingnya. Bahkan orang tuanya saja tidak bisa menemui anaknya. Hati Bimo sangat hancur. Bimo sangat ingin menemui Binar, menjaga dan menemani Binar. Tetapi, kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan. Hampir semua negara melakukan lockdown, ditambah dengan negara Indonesia yang pada saat itu sedang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setelah Bimo mengahkiri telepon dari orang tua Binar, Bimo mencoba untuk menghubungi Binar. Namun, nomor Binar sedang tidak aktif. Bimo tidak menyerah, Bimo meminta kepada orang tua Binar untuk mengirimkan nomor dari pihak rumah sakit yang sebelumnya telah memberitahu kondisi Binar. Saat Bimo ingin menelponnya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Binar. Dengan cepat, Bimo langsung mengangkat teleponnya.

“Halo Binar, Kamu pasti baik-baik saja kan? Saat ini kamu lagi sibuk bekerja kan? Kenapa nomor kamu susah sekali untuk dihubungi? Padahal aku kangen banget sama kamu” kata Bimo sambil meyakinkan kalau Binar pasti baik-baik saja.

“Bimo, maafkan aku… Maafkan aku karena sudah berbohong kepadamu, aku hanya tidak ingin kamu sedih dan membuat mu khawatir. Maafin aku Bimo…” jawab Binar sambil menahan rasa sesak didadanya.

“Kamu engga perlu minta maaf sayang. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Karena pada saat kondisi kamu seperti ini, aku tidak berada disampingmu, aku tidak bisa menemanimu” ucap Bimo sambil menangis.

“Maafkan aku Bimo... Kamu harus janji yah sama aku, kamu harus jaga kondisi kamu, jangan sampai sakit. Kamu juga harus janji, seandainya umur aku tidak lama lagi, kamu harus bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, kamu harus bahagia bersamanya. Terima kasih karena kamu sudah hadir didalam hidupku, terima kasih karena kamu sudah tulus menyayangi dan mencintaiku. Aku sangat mencintaimu Bimo” balas Binar sambil menangis.

“Binarrr, Sayangg...  Kamu harus janji sama aku. Kamu harus bertahan demi aku, demi orang tuamu. Kamu engga boleh berkata seperti itu. Kalau kamu sayang sama aku, kamu harus buktikan, kamu harus bertahan, kamu harus sembuh. Dokter pasti akan menyembuhkan kamu, kamu harus bertahan say…” jawab Bimo dengan nada panik bercampur sedih dan berusaha untuk meyakinkan Binar untuk sembuh dari penyakitnya.

Belum sepat Bimo melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba dokter yang menangani Binar datang, dan berkata “Gawat, kondisinya sangat kritis. Cepat pasang alat bantu pernapasan dan siapkan alat-alat lainnya.”

            Bimo sangat panik ketika mendengar ucapan dokter. Sayangnya, saat Bimo ingin menanyakan kondisi Binar, tiba-tiba saja teleponnya terputus. Saat itu, Bimo hanya bisa menunggu kabar dan berdoa agar kondisi Binar segera membaik. Namun, esok harinya kabar duka pun datang. Pihak rumah sakit mengabarkan keluarga Binar, bahwa nyawa Binar sudah tidak dapat tertolong dan kini jenazahnya sedang diurus sesuai dengan prosedur pengurusan jenazah pasien covid-19. Pihak rumah sakit juga membolehkan orang tua Binar untuk mengantarkan jenazahnya. Namun, mereka hanya diperbolehkan untuk melihat jenazahnya dari jauh, dan harus memakai alat pelindung diri. Bagaikan petir di siang hari, orang tua Binar sangat kaget mendengarnya. Mereka sangat terpukul, dan tidak menyangka jika anaknya sudah meninggal. Tidak lama kemudian, mereka segera ke rumah sakit untuk melihat dan mengantarkan jenazah anaknya. Sama seperti orang tua Binar, Bimo pun sangat kaget mengetahui kabar Binar sudah meninggal dunia. Bimo tidak percaya. Bimo ingin memastikan kabar tersebut dan meminta pihak rumah sakit untuk mengirimkan video jika Binar benar-benar sudah meninggal. Ternyata, Binar meninggal tepat ditanggal 15 Maret. Jika tidak diundur, maka hari itu Binar dan Bimo akan melangsungkan pernikahan. Tetapi, Tuhan berkehendak lain, Bimo yakin Binar akan ditempatkan di tempat yang terbaik. Keluarga Bimo dan Binar mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Binar, walaupun memang sangat sulit sekali. Bimo juga berterima kasih kepada Binar, karena sudah bersedia menemani Bimo baik suka maupun duka, dan berterima kasih juga karena sudah bekerja keras untuk membantu menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa orang lain. Binar orang baik, dan akan selalu ada dihati kami. Sesuai dengan namanya yaitu Binar Malaika, yang artinya selalu bercahaya, bersinar seperti malaikat.


Komentar