Assalamualaikum teman-teman semua! Pada blog kali ini akan membahas tentang Angkatan Pujangga Baru. Selamat membaca!
Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan
yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang
setelah tantara Jepang berkuasa di Indonesia. Adapun pengasuhnya, yaitu Sultan
Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane. Seperti halnya Balai
Pustaka, Pujangga Baru merupakan sebuah momentum penting dalam perjalanan sejarah
sastra Indonesia. Kata itu dapat diartikan sebagai majalah yang aslinya tertulis
“Poedjangga Baroe”, dan dapat juga diartikan sebagai gerakan kebudayaan
Pujangga Baru tahun 1930-an yang tidak terpisahkan dari tokoh-tokoh pemuda
terpelajar, yaitu Muhammad Yamin, Rustam Effendi, S. Takdir Alisjahbana, Amijn
Pane, Sanusi Pane, J.E. Tatengkeng, dan Amir Hamzah.
Majalah Pujangga Baru terbit pertama kali pada Mei
1933 dengan tujuan untuk menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan
semangat pada zamannya, dan mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah
karena sebelumnya dapat dikatakan cerai berai dengan menulis di berbagai
majalah. Adapun tokoh-tokoh Angkatan Pujangga Baru, yaitu:
- Amir Hamzah, yang dikenal sebagai penyair religius dengan kumpulan sajak Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941).
- Armijn Pane, yang terkenal dengan roman Belenggu (1940). Adapun karya lainnya yaitu kumpulan cerpen Kisah antara Manusia (1953), sandiwara Jinak-Jinak Merpati (1954), dan sajak-sajak Jiwa Berjiwa (1939).
- Asmara Hadi, yang terkenal dengan sajak-sajak perjuangan yang penuh keyakinan.
- J.E. Tatengkeng, ia dikenal dengan kumpulan sajaknya Rindu Dendam (1934).
- Muhammad Yamin, yang dikenal sebagai perintis puisi Indonesia dengan sajaknya “Tanah Air” (1922), kumpulan sajak Indonesia Tumpah Darahku (1928), drama Ken Arok dan Ken Dedes (1930), dan sejumlah buku sejarah, politik, dan undang-undang.
- Rustam Effendi, ia menghasilkan kumpulan sajak Percikan Permenungan (1925) dan drama.
- Sanusi Pane, karya-karyanya yang terkenal yaitu prosa liris Pancaran Cinta (1926), kumpulan sajak Puspa Mega (1927), kumpulan sajak Madah Kelana (1931), drama Kertajaya (1932), drama Sandyakala Ning Majapahit (1933), dan drama Manusia Baru (1940).
- S. Takdir Alisjahbana. Pada tahun 1928-1929 Takdir pernah menjadi seorang guru, kemudian menjadi redaktur Balai Pustaka (1930-1942) dan menghasilkan roman Layar Terkembang (1936), roman Tak Putus Dirundung Malang (1929), roman Dian yang Tak Kunjung Padat (1932), roman Anak Perawan di Serang Penyamun (1941), kumpulan sajak Tebaran Mega (1936), dan antologi.
Sumber:
Eliastuti,
Maguna. Dkk. 2017. Sejarah Sastra. Bogor: Penerbit In Media.
Komentar
Posting Komentar