Kakek dan Cucunya
Oleh: Gilang Rhamadhan
Seorang kakek tinggal
bersama anak dan menantunya. Mata kakek itu sudah rabun. Ia juga sudah mulai
tuli. Tak hanya itu, kedua tangannya pun sudah mulai rapuh. Saat makan di meja
makan, Kakek sering kali menjatuhkan makanannya. Hal itu membuat anaknya kesal.
Ia sering memarahi Kakek. Kakek
hanya terdiam menerima omelan anaknya. Beberapa hari kemudian, anaknya tak lagi
membolehkan ia makan di meja makan. Tempat makan Kakek dipindahkan ke sudut dapur.
“Makanlah di sini agar
kau tak mengganggu makan kami,” ucap anaknya.
Kakek hanya meneteskan
air mata saat anaknya berseru seperti itu. Ia seperti tak ada artinya lagi bagi
anaknya. Padahal dulu saat anaknya masih kecil, dirinyalah yang merawat sang anak
dengan penuh kasih sayang. Namun, saat sang Kakek sudah tua, anaknya malah
memperlakukannya dengan buruk.
Kakek menerima makanan di
mangkuknya. Tangannya yang rapuh tak bisa mengangkat mangkuknya. Kemudian…
prang! Mangkuk itu jatuh dan pecah. Anaknya langsung menghampiri si Kakek dan
memarahinya. Sedih sekali kakek itu mendengar caci-maki yang dilontarkan oleh
anaknya.
Keesokan harinya, anaknya
membelikan si Kakek mangkuk dari kayu yang murah. Mangkuk itu merupakan mangkuk
khusus untuk si Kakek. Kalau Kakek menjatuhkannya, mangkuk itu tidak akan
pecah. Anaknya memberikan makanan kepada si Kakek dengan menggunakan mangkuk
kayu itu.
Kakek selalu sedih saat
menerimanya. Apalagi makanan yang didapatkannya sedikit sekali. Tak jarang saat
siang dia merasa kelaparan. Cucunya yang melihat hal itu merasa iba. Tiba-tiba
ia memiliki ide.
Sang cucu mencari sebuah
kayu, lalu mencoba membuat mangkuk kayu. Ayah dan ibunya merasa heran. Untuk
apa dia membuat mangkuk kayu? Padahal sudah disediakan mangkuk untuknya.
“Kenapa kau membuat
mangkuk kayu, anakku?” tanya ibunya
“Aku membuat mangkuk kayu
untuk ayah dan ibu. Nanti saat aku dewasa, aku akan memberikan mangkuk kayu ini
untuk ayah dan ibu,” ucap anaknya.
Ayah dan ibunya sungguh
kaget. Kemudian mereka memandang ke arah Kakek. Mereka langsung menangis dan
meminta maaf kepada Kakek. Mereka sadar bahwa kelak mereka pun akan menjadi tua
dan tidak berdaya seperti Kakek. Sejak saat itu, Kakek kembali makan di meja
makan. Dia juga kembali mendapatkan makanan yang cukup.
Meskipun sering
memecahkan mangkuk, anaknya tak pernah lagi memarahinya. Mereka sadar dengan
kesalahan mereka. Mereka tak mau anaknya kelak memperlakukan hal yang sama
kepada mereka. Melihat hal itu, sang Cucu sangat senang. Memang tak seharusnya
orangtua diperlakukan seperti itu.
Komentar
Posting Komentar