Cerita Pendek Berjudul Harta Karun di Tumpukan Sampah Karya Luthfiah Zahra

 

Bantar Gebang, tempat pembuangan sampah di daerah Bekasi yang banyak dimukimi oleh masyarakat kalangan menengah bawah. Lingkungan yang kumuh dan bau yang menyengat. Di sinilah tempat tinggal Roni dan keluarganya. Roni adalah anak tunggal berusia 10 tahun. Roni tinggal bersama kedua orang tuanya. Ibunya bernama Sri dan Ayahnya bernama Yadi. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pemulung. Kehidupan Roni tidak seperti anak-anak beruntung lainnya yang selalu dimanjakan oleh harta orang tua. Ketika Sepulang sekolah Roni harus membantu kedua orang tuanya untuk memulung di tumpukan sampah di dekat rumahnya. Roni mempunyai keinginan agar bisa mempunyai sepatu sekolah baru yang sudah bertahun-tahun ia gunakan. Tetapi itu tidak mudah ia ucapkan dan dapatkan.

“Assalamualaikum Bu, Roni sudah pulang.” Ujar Roni sepulang sekolah sambil melepaskan sepatu rusaknya secara perlahan.

“Waalaikumsalam, Ron.”  Jawab Ibu sambil membereskan karung sampah di depan rumah untuk dipanggul. Ibu pun tersadar bahwa sepatu Roni sudah rusak dan tidak layak untuk dipakai ke sekolah.

“Loh Ron. Sepatumu sudah rusak?” tanya Ibu sambil berjalan mendekati Roni dan ingin melihat sepatu Roni.

“Tidak apa-apa Bu… sepatuku masih bisa dipakai Bu.” Jawab Roni mengumpati sepatunya ke belakang badannya yang berharap Ibunya tak khawatir.

“Tidak Roni... Sepatumu sudah banyak robekan dan jahitan. Itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Sini berikan kepada Ibu. Ibu ingin melihat seberapa parah rusaknya.” Ucap Ibu sambil mengulurkan tangan.

“Tidak perlu khawatir Bu, sepatuku baik-baik saja. Aku permisi dulu ya Bu mau siap-siap untuk memulung sampah.” Roni meninggalkan topik pembicaraan dan bergegas masuk ke dalam rumah membawa sepatunya.

Ibu Roni hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Ayah Roni mendengar percakapan itu dari dalam rumah. Membuatnya sedikit terbebani karena keuangan keluarganya yang sedang tidak stabil. Ayah Roni pun langsung bertanya kepada Roni.

“Sepatumu rusak Ron? Mengapa bisa?” Tanya ayah tegas menghalangi jalan Roni yang hendak berganti pakaian.

“Tidak Yah. Hanya sedikit saja rusaknya tidak terlalu parah.” Roni langsung mengumpati sepatunya di tangannya ke belakang badannya.

“Berikan kepada Ayah. Ayah ingin melihat.” Ayah Roni mengulurkan tangan.

Roni tampaknya kebingungan karena jika ayahnya tau sepatunya rusak parah, hal itu akan membebani dan akan membuat ayahnya marah. Roni tahu kondisi ekonomi keluarganya tidak baik. Ayahnya yang banyak hutang dan bunganya terus bertambah, kontrakan yang sudah nunggak dua bulan, ditambah sepatu Roni yang rusak. Mengandalkan gaji dari hasil menjual sampah plastik juga tidak seberapa uang yang didapat.

“Apa kamu tidak dengar ucapan Ayah? Mengapa diam begitu?” Tanya Ayah tegas kembali.

“Iya, Ayah. Ini sepatuku.” Memberikan sepatu lalu Roni menunduk takut.

“Ya ampun Roni. Kenapa bisa seperti ini sepatumu? Apa kamu tidak hati-hati memakainya? Apa kamu sengaja merusaknya agar dibelikan sepatu baru? Kamu tahu kehidupan kita ini susah. Janganlah bersikap seperti anak orang kaya.” Ucap Ayah marah.

Roni kecewa mendengar ucapan ayahnya yang menuduhnya seperti itu. Ia selama ini menutupi kerusakan sepatunya karena ia tak mau membenani kedua orang tuanya dan ia paham kondisi ekonomi keluarganya. Roni juga tak pernah meminta apapun kepada orang tuanya. Roni pun lantas menjawab pertanyaan Ayahnya.

“Maaf, Yah. Sepatu aku rusak memang karena sudah lama digunakan bahkan ukurannya pun juga sudah sempit dikakiku. Karena itulah sepatu ini menjadi rusak. Aku juga tidak meminta dan menuntut Ayah untuk memberikan aku sepatu baru. Aku juga tahu diri Yah. Aku tau kondisi ekonomi keluarga kita. Walaupun sepatu aku tidak sebagus teman-teman di sekolah. Aku tak apa, aku tetap mau menggunakannya.” Ucap tegas Roni.

 “Kamu membandingkan keluarga kita dengan keluarga teman-temanmu? Kamu tidak bangga dengan Ayah?” ucap tegas Ayah Roni sambil melempar sepatu Roni ke lantai yang tidak berkeramik.

“Tidak Ayah, bukan seperti itu maksudku. Aku bangga dan sayang sama Ayah dan Ibu mau bagaimanapun kondisi keluarga kita.” Ucap sendu Roni setelah dibentak Ayahnya.

 “Haduh… ada apa ini? ribut hanya karena sepatu? Sudah-sudah masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan. Roni sebaiknya kamu berganti pakaianmu dan Ayah kembalilah bekerja. Roni kamu tenang saja ya Nak. Jika nanti tabungan Ibu sudah cukup, Ibu akan membelikan sepatu baru untukmu.” Ibu datang melerai pertengkaran Roni dan Ayahnya.

“Baik, Bu. Tak perlu terburu-buru untuk membeli sepatu baruku. Roni masih mau menggunakan sepatu ini. Permisi ya Bu, Ayah. Roni izin mau mengganti baju dahulu.” Ucap Roni lalu mengambil sepatunya dan menaruhnya di bawah bangku.

Ayah Roni pun langsung keluar rumah dan melanjutkan memulung sampah. Tiba-tiba seorang anak datang ke rumah Roni membawa keranjang sampah dan capit. Ia datang mengajak Roni untuk memulung sampah. Ia pun bertemu dengan Ibu Roni di rumah.

“Assalamualaikum, Ibu. Roninya ada Bu?” tanya Bayu sambil menengok melihat di depan pintu kayu rapuh rumah Roni yang terbuka.

“Waalaikumsalam. Eh Bayu... Roninya ada di dalam masuk saja sini Yu.” Ucap Ibu sambil melanjutkan membereskan barang-barang rongsokan di depan pintu rumah.

Roni pun tiba-tiba keluar dan sudah mengganti pakaiannya. Membawa keranjang sampah dipunggungnya dan capit dilengannya. Tak lupa topi ia gunakan untuk melindungi kepala dari paparan sinar matahari yang sangat terik. Meski masih kesal dengan pertengkaran tadi, Roni tetap ingin memulung untuk membantu kedua orang tuanya.

“Ayo Yu kita bergegas menuju gunungan sampah.” Ajak Roni dengan semangat.

“Ibu, Roni dan Bayu izin untuk memulung sampah dulu ya Bu. Lebih baik Ibu istirahat karena Ibu sudah bekerja sedari pagi.”  Ujar Roni sambil pamitan kepada Ibunya.

“Iya Ron. Sedikit lagi pekerjaan Ibu selesai. Kamu dan Bayu hati-hati ya naik gunungan sampahnya”.

“Siap Ibu.” Ucap kompak Roni dan Bayu sambil hormat.

Di perjalanan menuju tumpukan sampah Roni banyak terdiam memikirkan perdebatan dengan ayahnya tadi. Ia merasa tidak enak hati. Roni termenung dan Bayu menyadari sedari tadi Roni hanya terdiam tak banyak bicara seperti biasanya. Bayu lantas bertanya sambil merangkul Roni.

“Kamu kenapa Ron? Tadi di rumahmu kamu semangat sekali mau memulung sampah. Kenapa di perjalanan kamu lemas seperti banyak pikiran?” tanya heran Bayu.

“Tidak apa-apa, Yu. Aku baik-baik saja.” Ucap lesu Roni kepada Bayu.

“Hmmm… yakin kamu tidak apa-apa?” Ucap Bayu tak percaya dengan yang dikatakan Roni.

“Iya yakin… tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja kok. Ayok kita naik ke tumpukan sampah di sana. Siapa tau kita mendapat banyak sampah plastik.” Roni berlari meninggalkan Bayu

“Yasudahlah kalau kamu tidak mau cerita. Eh Ron tunggu aku, kenapa kamu lari meniggalkan aku.” Bayu menyusul Roni berlari.

Tiba di tumpukan sampah Roni dan Bayu mencari barang-barang plastik yang bisa mereka jual kembali. Seperti bungkus makanan, botol-botol bekas, plastik kresek dan lain-lain. Canda dan tawa mereka lakukan di atas tumpukan sampah yang sudah tinggi menjulang seperti bukit. Bau yang tak sedap sudah biasa mereka hirup.

Disaat sedang mengais sampah tiba-tiba Roni menemukan kotak. Roni mendekati kotak itu. Ternyata berat dan seperti ada sesuatu didalamnya. Roni pun membukanya dan ternyata kebahagiaan pun terlihat dari wajah Roni. Roni pun langsung memanggil Bayu.

“Bayu…. Sini lihat apa yang aku temukan.” Roni teriak sambil memegang erat kotak yang ia temukan.

“Iya… iya… ada apa Ron?” Bayu mendekat ke arah Roni.

“Lihatlah aku menemukan kotak dan kau tahu apa isinya? Ini sepatu. Sepertinya ini pas dengan ukuran kakiku dan kebetulan warnanya hitam bisa aku pakai untuk ke sekolah.” Ucap Roni yang sangat bahagia.

“Wah… bagus sekali sepatu ini. Tidak seperti sepatu lama yang sudak dipakai bertahun-tahun. Tidak ada kerusakan yang terlihat. Pasti orang yang membuang sepatu ini orang kaya.” Ujar Bayu memuji.

Lantas Roni pun langsung duduk mencoba sepatu tersebut dan ternyata sepatu itu pas diukuran kakinya. Roni sangat bahagia. Setelah dicoba sepatu itu pun langsung dilepas agar tidak bau terkena sampah. Bayu yang ikut bahagia melihat Roni yang bagaikan menemu harta karun di tengah gunungan sampah. Wajah murung Roni tak terlihat hanya bahagia yang terpancar. Roni izin pulang terlebih dahulu ke Bayu untuk menaruh dan memberi tahu keluargnya bahwa ia menemukan sepatu.

“Aku pulang sebentar ya, Yu. Nanti aku akan kembali lagi.” Ucap Roni terburu-buru.

“Iya hati-hati Ron.” Ucap Bayu sambil melambaikan tangan.

Setibanya Roni di rumah. Ayah dan Ibunya baru saja menjual hasil sampah plastik. Roni berlari mendekati ayah dan ibunya. Ia tak sabar ingin memberi tahu kabar baik.

“Ibu, Ayah. Lihatlah aku menemukan kotak ini di tumpukan sampah.” Ucap bahagia Roni.

“Wah apa itu Ron?” Tanya Ibu penasaran.

“Tada…. Ini sepatu Bu. Aku menemukannya di atas tumpukan sampah saat aku dan Bayu sedang mengais sampah plastik.” Roni membuka kotak sepatu dihadapan Ibu dan Ayahnya.

Melihat Roni bahagia seperti ini. Ayah Roni menyesal karena terlalu emosi mengingat kejadian siang tadi. Ayah Roni merasa gagal menjadi seorang Ayah dan tidak bersyukur memiliki anak sebaik dan setulus Roni. Ayah Roni pun meminta maaf kepada Roni.

“Roni maafkan Ayah ya. Ayah Belum bisa membelikan kamu sepatu yang bagus dan layak. Maafkan ayah tidak perhatian sama kamu. Kamu anak baik Nak. Terima kasih sudah mengerti dan tidak banyak menuntut dengan kondisi keluarga kita yang seperti ini.” Ucap haru Ayah Roni.

 “Tak apa, Ayah. Roni bangga memiliki orang tua seperti Ayah dan Ibu. Roni sangat sayang kepada kalian. Terima kasih sudah merawat Roni sampai sekarang. Terima kasih sudah menyekolahkan Roni. Roni janji dengan sepatu baru ini. Roni akan buktikan bahwa Roni akan rajin belajar dan akan menjadi orang sukses nantinya.” Ucap Roni menenangkan Ayahnya sambil memeluknya.

“Aamiin….” Ucap kompak Ayah dan Ibu lalu memeluk Roni.

 

~TAMAT~

Komentar