Bersemayam dalam Sepi
Starla
Devangana, seorang gadis yang takut dalam kegelapan namun merasa aman saat
sepi. Starla Devangana ialah gadis cantik yang selalu memperdulikan orang-orang
disekitarnya dan penyayang binatang terutama kucing. Ya, nama Starla Devangana
terdengar aneh saat menyebutnya, namun dibalik nama tersebut memiliki arti
bahwa Starla adalah seorang gadis yang berasal dari langit. Sesuai dengan
namanya, Starla sangat bahagia melihat ke atas langit dengan harapan ia dapat
mendapatkan rasa aman selain saat sepi.
Saat
ini, Starla sedang duduk di bangku SMA dengan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.
Selain menyukai langit, hewan, dan sepi, seorang Starla juga menyukai alam
bebas. Entahlah, arti namanya hanya tentang langit, namun Starla sangat
menyukai beberapa hal yang jarang disukai oleh banyak orang. Ya, inilah Starla
gadis sederhana yang dianggap sedikit aneh oleh beberapa teman-temannya.
Di
suatu pagi…
“Amahhh…”
Teriak Starla berlari menuruni anak tangga.
“Astaga,
pelan-pelan Strala, nanti kalau terjatuh bagaimana? Tanya Amah khawatir
“Huh,
tidak akan. Amah lihat kameraku tidak? Kamera yang biasanya aku gunakan untuk
memotret langit. Kemarin sore, setelah aku pakai memotret senja di taman
belakang rumah, aku meletakkannya di meja belajarku. Namun pagi ini tidak ada,
Amah. Bagaimana ini? Semua hasil potret langitku ada di dalam kamera itu” Jelas
Starla dengan nada sedih karena kamera tersebut sangat penting.
“Starla,
lihatlah di atas meja ruang tamu” Perintah Amah kepada Starla yang diikuti oleh
Starla.
“Wahh,
kameraku. Perasaan kemarin sore aku meletakkannya di meja belajarku, mengapa
sekarang ada di meja ruang tamu? Lalu, ini apa Amah? Ini seperti kotak hadiah,
namun untuk siapa? Apakah ini punya Ayah? Punya Ayah tertinggal ya, Amah?”
Tanya Starla tak henti-hentinya karena masih merasa kebingungan.
“Starla…Starla.
Kamu ini mengajukan pertanyaan banyak sekali, Nak. Kemarin memang kamu
meletakkan kameramu di sini setelah memperlihatkan hasil potret langitmu kepada
Amah dan kamu tinggal begitu saja. Kemudian untuk kotak hadiah yang kamu
tanyakan, ini untukmu dari Ayah, Nak. Ayah membelikan kamera baru agar kamu
bisa memotret banyak hal yang kamu sukai selain langit. Hadiah ini juga sebagai
bentuk apresiasi Ayah dan Amah karena kamu telah tumbuh menjadi anak yang baik
dan tidak pernah mengecewakan kami” Ucap Amah dengan penuh kasih sayang.
“Hikss,
terima kasih ya Ayah dan Amah. Starla janji akan selalu menjadi anak yang baik
dan selalu membanggakan Ayah dan Amah” Ucap Starla seraya memeluk Amah.
“Ya,
Nak. Jangan lupa ucapkan terima kasih juga kepada Ayah ya” Pinta Amah kepada
Starla.
Ketika
Starla dan Amah sedang membuka kotak hadiah tersebut, Ayah datang menghampiri
Amah dan Starla.
“Asik,
sepertinya ada yang sedang mendapatkan hadiah nih” Ucap Ayah menghampiri Amah
dan Starla di ruang tamu.
“Ayahh,
terima kasih banyak. Starla senang sekali dengan hadiahnya.” Ucap Starla
memeluk Ayah.
Ya,
begitulah kehidupan keluarga kecil Starla, kedua orang tuanya sangat
menyayanginya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Starla segera memindahkan
kedua kameranya ke dalam kamar. Starla akan menggunakan kamera barunya hanya
untuk memotret kucing-kucing jalanan atau bahkan dedaunan yang terguyur hujan
juga akan dipotretnya? Entahlah, Starla pun masih bingung akan digunakan untuk
memotret apa di kamera baru miliknya.
Esok
harinya, di sekolah seperti biasa Starla duduk paling depan dan paling ujung
posisinya. Starla tak memiliki teman dekat. Sebab, Starla selalu dinilai
manusia aneh yang susah bersosialisasi. Tak apa, Starla membenarkan pernyataan
tersebut, Starla lebih merasa aman saat sendiri dan dalam sepi. Namun, apa daya
semenjak ada anak baru di kelasnya dan terpaksa duduk di sebelah Starla yang
membuat Starla memaksa dirinya sedikit untuk berkenalan atau bahkan berbincang
sedikit kepada teman barunya. Namanya Anggia Cahya, siswi pindahan dari Bandung
yang kebetulan menjadi teman sebangku Starla. Keduanya memiliki sifat yang
berbanding terbalik, Anggia ialah gadis yang sangat aktif bersosialisasi. Kehadiran
Anggia merupakan sebuah bencana bagi Starla, sebab Starla merasa Anggia
bukanlah teman yang ia inginkan.
Saat
jam istirahat tiba…
“Starla,
istirahat mau kemana? Ke kantin bareng yuk. Sekalian aku mau tahu letak kantin
di sekolah ini di mana” Ajak Anggia kepada Starla.
“Tidak.
Aku ingin ke taman belakang sekolah. Kantin letaknya di sebelah kiri kelas kita
paling ujung” Ucap Starla acuh dan pergi meninggalkan Anggia.
“Apa
aku ada salah dengannya? Hufft baru hari pertama tetapi sudah mendapatkan teman
yang pendiam sepertinya” Hela napas Anggia pergi meninggalkan ruang kelas dan
pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sejak pagi belum terisi apapun.
Di
taman belakang sekolah…
Starla duduk di bangku taman untuk menikmati hari yang cerah saat ini. Memandang langit penuh takjub seolah-olah dirinya terbawa ke atas langit sana. Itulah Starla, sebatas melihat langit saja membuatnya merasa senang. Tak akan pernah terlewatkan untuknya memotret langit hari ini. Entah sudah berapa banyak potret langit yang tersimpan di dalam galerinya. Starla menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang sekolah. Hingga tanpa ia sadari, ada seseorang yang memandangnya di belakang.
Bel
istirahatpun berbunyi menandakan jam istirahat sudah selesai dan akan
dilanjutkan pembelajaran kembali. Starla kembali ke dalam kelasnya dengan
perasaan senang sebab langit hari ini cerah yang menghasilkan banyak potret
langit terbaru di kamera handphonenya.
Anggia yang melihat Starla senyum merasa senang, entahlah apa yang dirasakan Anggia,
namun Anggia yakin bahwa Starla adalah anak yang ceria tidak seperti apa yang
Starla perlihatkan kepadanya. Anggia ingin menjadi teman dekat Starla, ia akan
melakukan beberapa hal untuk menjadikan Starla teman dekatnya.
Beberapa
minggu kemudian…
Saat
jam istirahat, Anggia melihat Starla sedang duduk sendirian di bangku taman.
Anggia segera menjalankan rencananya untuk menjadikan Starla teman dekatnya,
Anggia mengirimkan beberapa potret langit yang ia miliki dan ia potret beberapa
hari ini, karena ia senang ketika mengetahui bahwa Starla menyukai langit
seperti dirinya. Ketika Anggia mengirimkan potret langit, Anggia segera
menghampiri Starla.
“Hai
Starla, aku boleh duduk di sampingmu?” Tanya Anggia penuh hati-hati karena
takut Starla tidak memperbolehkannya.
“Silakan,
duduk saja. Terima kasih untuk potret langitnya.” Ucap Starla mempersilakan
Anggia untuk duduk di sampingnya.
“Tak
masalah Starla. Aku hanya ingin berteman baik denganmu. Kebetulan juga kita sama-sama
menyukai langit. Jadi aku harap, kamu dan aku bisa berteman baik ya. Aku hanya
siswi pindahan yang baru mengenalmu saja” Ucap Anggia dengan senyuman.
“Hahaha,
pasti kamu berpikir sama seperti ynag lainnya bahwa aku adalah anak yang aneh
karena malas bersosialisasi bahkan aku tak mempunyai teman dekat. Aku hanya
merasa kurang nyaman saat di keramaian, makanya banyak yang menilaiku seperti
itu” Ucap Starla dengan tawa renyah.
“Hufft
syukurlah kau bisa menjelaskannya kepadaku. Aku kira kamu tidak akan mau
menjelaskannya. Jadi, apakah kita bisa berteman baik? Kita bisa memotret langit
bersama-sama” Tanya Anggia.
“Tentu,
terima kasih ya Anggia sudah mau berteman denganku. Hanya kamu saja yang ingin
berteman denganku” Ucap Starla terharu.
“Terima
kasih juga ya Starla, sehabis ini kita harus melakukan kegemaran kita
bersama-sama ya. Kamu jangan sendirian lagi. Sekarang Anggia Cahya adalah
sahabatnya Starla Devangana” Ucap Anggia memeluk Starla yang diiringi tawa
keduanya.
-
S
E L E S A I -
Komentar
Posting Komentar