Cerpen Awan di Belakang Rumah Karya Ali Yasin Akillah

  Awan di Belakang Rumah


Halaman belakang rumah Acha menjadi tempat ternyaman untuk memandang langit biru dan awan-awan yang bergumpalan. Acha dan adiknya, Risa, sering duduk setiap sore menjelang untuk mengamati berbagai bentuk awan di atas sana. Risa yang masih berumur 7 tahun selalu senang ketika diajak kakaknya yang masih duduk di bangku SMP kelas 1 itu untuk melihat matahari terbenam di halaman belakang rumahnya. Warna oranye memancar ketika sore hari tiba dan mata Risa selalu berbinar-binar melihatnya. 


"Apa bentuk awan itu." Acha menunjuk salah satu gumpalan awan berukuran sedang.


"Kurasa itu seperti kue ulang tahunku setahun yang lalu. Ada buah ceri di atas kue itu," jawab Risa.


Satu tahun lalu, pertama kalinya keluarga Acha merayakan ulang tahun dengan membeli kue. Pada tahun-tahun sebelumnya, keluarga Acha terpuruk secara ekonomi dan mereka harus hidup merangkak di sebuah rumah beratap genting tua yang ketika hujan tetesan airnya selalu jatuh ke lantai rumah itu. 


Sekarang, mereka hidup dengan keadaan yang cukup dan mampu membeli rumah kecil di sebuah perumahan yang jaraknya tidak jauh dari rumah lama mereka. Atapnya tak lagi bocor dan mereka hidup dengan perasaan yang nyaman. Makanan yang mereka santap pun tak hanya satu lauk seperti dulu ketika mereka hanya makan sejumput nasi dengan kerupuk sebagai lauk utama. 


"Bagus juga imajinasimu. Ayo kita masuk, langit sudah mulai gelap. Aku juga sudah lapar," kata Acha.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ketika sampai di ruang tengah, ibu mereka sedang menyusun tata letak makanan untuk makan malam di meja kaca berbentuk oval yang dikelilingi sofa berlengan kayu berwarna biru tua.


"Acha, Risa, ayo kita makan. Ibu sudah buatkan telur pedas dan sup ayam untuk kalian," kata Ibu sambil tersenyum lebar memandang kedua anaknya.


"Ayah ke mana, Bu? Dari tadi Risa gak lihat Ayah ada di rumah," tanya Risa yang sejak siang tidak melihat ayahnya berada di rumah.


Ibu tersenyum getir. "Ayah sedang ada pekerjaan katanya. Kalian makan saja lebih dulu, tidak usah menunggu Ayah."


"Ayah biasanya kerja malam hari, tumben sekali Ayah ada pekerjaan dari siang hari," ujar Acha dengan dahi yang mengerut. 


Sebenarnya, Risa dan Acha tak pernah tahu apa pekerjaan ayahnya. Dahulu sekali, ketika mereka belum pindah ke perumahan, ayahnya bekerja mencari botol-botol bekas untuk ditimbang dan mendapat upah ketika karung yang berisi botol itu memiliki berat yang mencukupi. 


Namun sekarang, mereka tak pernah tahu apa yang ayahnya kerjakan untuk menghidupi keluarga mereka bahkan sampai bisa membeli sebangun rumah di sebuah perumahan. Bahkan, istrinya sendiri pun tak tahu apa pekerjaan suaminya. Satu hal yang sudah pasti, ayah mereka selalu berangkat kerja pada malam hari dan pulang pada pagi hari. Agak ganjil rasanya ketika ayah mereka berangkat kerja pada siang hari. 


Mereka makan malam tanpa ayahnya. Ibunya pun ikut makan, tetapi tatapan matanya kosong melihat makanan yang hanya diaduk sedari tadi dan beberapa kali dentingan sendok menggema di rumah yang keadaannya cukup sunyi kala itu. 


"Ibu sedang tidak nafsu makan, ya? Acha lihat dari tadi makanannya hanya diaduk. Atau Ibu sedang sakit?" ucap Acha memecahkan kesunyian. 


"Enggak. Ibu cuma sedikit pusing akhir-akhir ini. Kalian makan yang banyak, ya." Ibu meletakkan piring yang sejak tadi dipegang ke atas meja. "Ibu mau ke kamar dulu. Acha, tolong jaga Risa."


Risa sibuk dengan makanannya. Suapan tiap suapan ia lakukan dengan mantap. Risa tak pernah mengerti apa yang terjadi. Anak berumur 7 tahun itu hanya mengerti bahwa setiap harinya ia harus sekolah, makan, lalu tidur. Tak ada beban pikiran yang mengusik hidupnya, paling-paling hanya tugas matematika dari gurunya yang cukup rumit. Hanya Acha yang mengerti apa yang terjadi di rumah itu. 


Acha paham ada sesuatu yang tidak beres. Tidak biasanya ibunya menatap makanan dengan tatapan yang kosong. Seperti ada suatu hal rumit yang membuatnya terus-terusan berpikir sampai mendapat sebuah jawaban—sama seperti Acha ketika melihat Risa sedang mengerjakan tugas matematika dari gurunya. 


Piring Acha bersih lebih dulu ketimbang Risa. Acha memutuskan pergi ke kamar ibunya sehabis meneguk air setengah gelas setelah makan. "Risa, kamu di sini dulu, ya. Kalau sudah habis taruh saja piringnya di meja, nanti aku yang bereskan semua. Aku ingin pergi ke kamar Ibu sebentar."


Risa hanya mengangguk dengan mulut yang penuh makanan dan terus mengunyah tak henti-henti. Rambutnya yang ikal terurai menyentuh pinggir mulutnya membuat beberapa helai rambut ikut termakan bersama nasi dan lauk lainnya. 


Acha mengintip di balik pintu kamar ibunya yang terbuka sedikit sekali. Matanya menyelisik dan mendapati ibunya sedang terbaring di dipan menatap langit-langit kamar. Acha mengetuk pintu ibunya dan melangkah masuk tanpa menunggu jawaban ibunya. Acha duduk di pinggiran dipan mencoba menerawang sorot mata ibunya yang sejak tadi selalu mengambang. 


"Ibu sedang sakit? Tidak biasanya Ibu seperti ini," ucap Acha dengan lirih.


Ibunya diam sejenak. Ada keheningan beberapa detik sampai ibunya mengeluarkan suara yang parau. "Ibu selalu bertanya-tanya apa pekerjaan Ayah selama ini. Pekerjaan apa yang dilakukan dari malam hingga pagi dengan gaji yang cukup besar? Ibu sering bertanya kepada Ayah, tetapi ayahmu selalu saja mengalihkan topik pembicaraan dan menyuruh kita untuk mensyukuri semua ini. Hari ini ayahmu berangkat siang hari. Suatu hal yang tak pernah terjadi selama kita pindah ke rumah ini."


Acha mendengar ucapan ibunya dengan perasaan yang pilu. Sebagai anak pertama, Acha memiliki beban yang berat di pundaknya. Memastikan bahwa keluarganya baik-baik saja bukan hanya tugas ibunya, tapi Acha juga memiliki peran yang penting. Acha pun harus menjaga adiknya yang masih kecil dan polos itu. 


Acha merunduk memikirkan kata apa yang cocok untuk menanggapi perkataan ibunya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Acha tak kuasa melihat ibunya yang selalu melamun. Ia tak mau ibunya banyak pikiran dan akhirnya jatuh sakit. Acha hanya berkata, "Mau Acha buatkan teh, Bu?"


"Tidak usah, Sayang. Tolong rapikan saja makanan di meja kalau semuanya sudah beres. Jangan pernah tinggalkan adikmu sendirian."


Acha mengangguk.


***


Esok paginya Acha bangun lebih awal di samping Risa. Mereka berdua tidur dalam satu kamar bercat merah muda dengan beberapa boneka berukuran sedang di kasurnya. Acha membangunkan Risa yang harus berangkat ke sekolah pagi ini. 


Acha membantu adiknya untuk menyiapkan peralatan sekolah dan seragam yang akan dikenakan. Ia sedikit melongok ke kamar ibunya dan melihat ayahnya masih tertidur lelap dengan dengkuran yang sedikit nyaring. Ibu pergi berbelanja bahan masak sejak langit masih gelap. Ketika Risa sudah siap untuk berangkat sekolah sekarang tugas Acha untuk mengantarnya ke sekolah.


Seusai Acha mengantar adiknya dan sedang memarkir kendaraannya di halaman depan, terdengar sayup-sayup suara ayah dan ibunya sedang berbicara dengan nada yang keras. Acha segera menghampiri pintu masuk untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun, ketika sampai di beranda rumah, langkahnya terhenti sejenak. Ia mendengar ibu dan ayahnya sedang berdebat. 


Tak banyak informasi yang ia dengar dari perdebatan di dalam rumah, tapi yang pasti, Acha mendengar kalau ayahnya sangat marah karena selalu ditanyai apa pekerjaannya, dan Ayah tak terima dengan hal itu. Bentakan terus terdengar dari mulut ayahnya. Acha tak kuasa mendengarnya dan memutuskan pergi ke halaman belakang lewat samping rumah. 


Acha tak ingin melihat kedua orang tuanya berdebat dan memilih duduk meringkuk termenung di halaman belakang rumah. Beberapa menit kemudian kegaduhan di dalam rumah surut, Acha beranjak ke dalam rumah melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Acha masuk, ayahnya sudah tak ada di rumah, hanya ada ibunya yang duduk terdiam di ruang tengah dengan muka kuyu. Acha menduduki sofa di samping ibunya. 


"Ibu, apa yang terjadi, Bu?" Suara Acha prihatin sambil menatap muka ibunya yang dibalut kesedihan. Belum sempat ibunya menjawab, Acha terus bertanya karena panik. "Ayah ke mana, Bu? Kenapa Ayah tadi membentak Ibu? Ibu tidak apa-apa, kan?"


Dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Acha, ibunya tak satu pun menjawab pertanyaan tersebut. Hanya satu kalimat yang terucap dari mulut ibunya dan membuat Acha terkejut. "Rumah yang kita tempati, pakaian yang kita pakai, makanan yang kita makan, semuanya berasal dari uang yang haram."


Acha mematung tak mengerti apa yang dikatakan ibunya. Sejenak Acha berpikir, lalu dari mana uang yang didapat ayahnya sampai dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya selama ini. Belum sempat ia bertanya, ibunya memeluk Acha dengan hangat. Telinganya mendengar isakkan ibunya yang dipenuhi kepiluan membuat perasaan Acha ikut sendu dan hampir menangis. Acha membalas pelukan ibunya yang sedang terisak-isak di bahunya. Sejenak ia mencoba mencerna kalimat ibunya barusan. Hingga akhirnya, Acha sadar akan suatu hal.


Acha ikut menangis.


***


Beberapa hari setelahnya, Acha merasakan kecanggungan di rumah itu. Ayahnya tak lagi sering berdiam diri di rumah. Ibunya pun melakukan pekerjaan rumah dengan muka yang muram. Adiknya sudah berangkat sekolah sejak tadi dan sekarang Acha sedang mengerjakan tugas sebelum berangkat sekolah siang nanti. Sebentar lagi adiknya pulang sekolah dan ia harus menjemputnya pukul 10 nanti. 


Acha menyelesaikan beberapa soal yang tersisa sebelum ia menjemput adiknya. Setelah semua soal rampung dikerjakan, ia bergegas menjemput adiknya yang biasanya pulang dengan beberapa bungkus jajanan di tangannya. Namun, agaknya itu tak akan terjadi. Akhir-akhir ini ayahnya memberi uang pada ibunya dengan jumlah yang sedikit, begitu kata ibunya ketika mereka makan malam berdua semalam karena Risa terlelap lebih awal saat itu. 


Sesampainya di sekolah, Acha melihat adiknya sedang berdiri di depan gerbang sekolah mengobrol dengan temannya, menunggu jemputan dari kakaknya. Acha tidak melihat bungkus jajanan di tangan Risa, pasti tersebab ibunya yang memberi uang jajan sedikit pada Risa, itu pasti.


"Kamu gak jajan hari ini?" tanya Acha ketika sampai di hadapan adiknya.


"Uangku habis untuk bayar uang kas, jadi aku hanya jajan permen hari ini," jawab Risa sebelum naik sepeda motor bersama kakaknya. 


Mereka berdua menuju rumah dengan perasaan yang berbeda. Risa duduk di atas sepeda motor dengan riang melihat lalu-lalang kendaraan dan pemandangan di sekitarnya. Acha merasakan hal yang berbeda, perasaannya mencelus setiap kali pulang menuju rumah. Ia masih terbayang-bayang kejadian kemarin ketika ayahnya membentak ibunya dengan keras. Untungnya, Risa tidak ada di rumah ketika itu terjadi, syukur adiknya itu tidak tahu apa-apa dan seharusnya tidak tahu tentang hal itu. Acha takut jika adiknya ikut bersedih melihat itu. 


Ketika mereka sampai di depan rumah, Risa turun dengan hati-hati dan menunggu kakaknya yang sedang memarkir sepeda motor. Kali itu, kedua kalinya Acha mendengar suara bising dari rumahnya. Acha merasa dejavu dengan suara-suara yang ia dengar dari dalam rumahnya hari itu. Bentakan, teriakan, kesedihan, masih terbayang dalam benaknya. 


"Risa, kamu tunggu sebentar di sini," ucap Acha ketika mendengar suara bising di rumahnya. 


"Kenapa, Kak?" tanya Risa yang tak dihiraukan oleh kakaknya. 


Dengan langkah cepat, Acha segera mengintip sedikit ke dalam rumahnya—meninggalkan Risa di belakangnya—untuk melihat apa yang terjadi. Acha seperti ditarik ke kejadian satu hari yang lalu. Benar saja, ayah dan ibunya berdebat lagi di dalam rumah itu. Tapi, ada beberapa hal yang berbeda dari kejadian sebelumnya. Kali ini, ayahnya menggunakan kata-kata kasar untuk memaki ibunya; ada Risa bersamanya. 


Acha yang melihat itu langsung menghampiri adiknya yang sedang berdiri di halaman depan menunggu kakaknya. Risa adalah adik yang penurut, ia merupakan gambaran adik yang patut disyukuri oleh kakaknya, karena selain patuh ia juga memiliki hati seperti malaikat—tidak menyebalkan. 


"Ada apa, Kak? Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya Risa keheranan.


Acha langsung menarik tangan adiknya tanpa menjawab pertanyaan itu, dan membawa Risa ke halaman belakang lewat samping rumah. Halaman belakang rumahnya dipenuhi rerumputan hijau yang segar dan beberapa tanaman di pinggir halamannya. Risa hanya bisa melihat wajah kakaknya yang panik dengan terheran-heran.


Sesekali Risa mendengar suara yang keras dari dalam rumahnya. "Kenapa rumah berisik sekali. Kedengarannya Ayah sedang marah." 


Acha tak menjawab pertanyaan adiknya. Alih-alih ia berkata, "Langit hari ini cerah, ya? Sangat biru dan banyak awan yang menghiasinya."


Risa mendongak ke arah langit yang warnanya biru sempurna dan beberapa awan yang melintas lambat. Kesunyian merayapi kakak-adik itu. Beberapa kali terdengar suara riuh di dalam rumah. Pikiran Acha berkecamuk, khawatir akan ibunya yang sedang bertengkar dengan ayahnya; khawatir pada adiknya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, bibirnya Acha bergerak untuk mengusir kesunyian. 


"Apa bentuk awan itu?" tanya Acha sambil menunjuk awan berbentuk vertikal yang ukurannya paling besar di antara awan yang lain.


Risa mengamati bentuk awan itu dengan cermat. Berusaha membuat gambaran di pikirannya tentang awan yang sedang dilihatnya. Sekilas ia melihat gambaran kepala dan tangan dalam awan itu. Cukup lama untuk Risa bisa menjawab apa bentuk awan yang ditunjuk oleh kakaknya. Beberapa kali ia menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat sesuai dengan apa yang ada di benaknya. Setelah benar-benar yakin, Risa pun menjawab.


"Aku melihat perempuan sedang menunduk dan kedua tangannya terbuka di depan wajahnya. Sepertinya ia sedang menangis."


Komentar