Senandika "Refleksi Singkat, untuk Tahun yang Penat" Karya Muhamad Faisal Ahwan

 

Senandika 

Refleksi Singkat, untuk Tahun yang Penat

Muhamad Faisal Ahwan

Sekali waktu pada suatu pagi di bulan Desember 2023 yang riuh redupnya dihinggapi dingin dari turunnya hujan, saya terlambat bangun. Waktu menunjukkan pukul 07.50 WIB, saya khilaf dan teledor bahwa ada mata kuliah yang mestinya diikuti pada pukul 07.30 WIB. Alhasil, saya terlambat 20 menit dari waktu dimulainya kelas pertama di hari itu. Beruntungnya, dosen pengampu mata kuliah tersebut—yang dikenal sebagai sosok garang dan ditakuti mahasiswanya—masih dapat memaafkan keterlambatan yang saya lakukan, tetapi bukan berarti kemalangan terhadap saya lantas berhenti di situ saja. Beliau—dosen tersebut—lalu menyuruh saya untuk segera mempresentasikan hasil analisis sebuah karya sebagai tugas yang pada 3 hari lalu diberikannya. “Sial bukan kepalang,” gumam saya dalam hati.

Betapa kagetnya saya ketika melihat tugas yang sudah dikerjakan dengan pertaruhan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan—yang terakhir terkesan agak berlebihan, saya paham—lupa di-submit pada laman pengumpulan tugas yang telah disediakan. Pikiran saya sontak kacau mengandaikan respon dari dosen terkait jika mengetahui keteledoran saya yang satu ini. “Jika benar ini adalah ujian-Mu, maka tolong lancarkan, Tuhan. Dan lain kali, tolong jangan berikan ujian saya kepada sosok dosen ini,” untaian doa yang terus menerus saya rapalkan di dalam hati.

Presentasi dimulai, hasil demi hasil analisis saya paparkan, segala pertanyaan semaksimal mungkin saya jawab. Semula saya merasa ini mudah dan lancar, hingga tibalah ketelitian menghinggapi sang dosen, “Ibu belum melihat tugas kamu di laman pengumpulan, padahal batas akhirnya jam 7 pagi ini, kamu sudah mengumpulkan? Hasil analisis ini murni punya kamu? Atau malah hasil yang kamu paparkan barusan cuma copy paste dari orang lain saja?” kiranya begitu rangkuman tanya penuh curiga dari dosen kepada saya. Dengan canggung, saya mencoba menjelaskan dan meminta maaf kepada ibu dosen—yang terkenal tegas dan tidak kenal segan kepada siapa pun itu. Beliau akhirnya memaklumi kembali kelalaian saya sebagai mahasiswa. Selesai presentasi, kami pun berjalan beriringan dengan damai dan diwarnai canda penuh tawa.

Kisah di atas merupakan sepenggal dari banyaknya cerita yang mewarnai kehidupan saya, semua cerita dari jengkel, sedih, bahagia, dan lain sebagainya melengkapi oase pengalaman saya di tahun ini. Boleh jadi, hal yang terjadi pada saya juga terjadi pada anda. Apa yang saya rasa, juga dirasa oleh anda—meski mungkin dengan porsi yang berbeda. Satu yang penting dari rangkaian puzzle yang tersusun dan menjadi bagian dari cerita di tahun ini adalah: selalu ada makna, cerita, dan pembelajaran yang akan dikenang dan dinikmati di waktu yang akan datang. Saya rasa tahun ini telah memberikan banyak kejutan dan pengalaman-pengalaman berarti. Banyak yang telah dilalui, banyak waktu yang diisi dan dibuang, banyak kesempatan yang sudah dimanfaatkan dan disia-siakan, banyak teman yang datang dan pergi, banyak momen yang berlalu begitu saja, dan hal-hal lain. Kita masih tetap hidup, menjadi tokoh utama dalam jalan cerita masing-masing.

Bagaimana dengan resolusi yang dirumuskan tahun lalu? Apa kabarnya? Bersyukur untuk kalian yang mendapatkan nasib baik atas resolusi yang dicapai, dan jangan berkecil hati untuk kita yang belum. Sejatinya, yang terpenting dalam kehidupan adalah prosesnya, bukan hasilnya. Hidup tidaklah melulu dilihat dari apa yang dapat kita miliki, melainkan apa yang dapat kita maknai. Kita tidak gagal di tahun ini maupun tahun-tahun selanjutnya, kita tidak gagal karena resolusi belum mencapai titik temu—buktinya kita masih berdiri tegak dan menjalani kehidupan, kita justru akan gagal ketika menyerah dan berpuas dengan pencapaian.

Masih banyak cerita yang mesti kita taklukan, masih banyak kepingan puzzle yang mesti kita susun, masih banyak keteledoran yang memberikan pembelajaran dan belum dilakukan, masih banyak maaf dan terima kasih yang belum diucapkan, serta masih banyak peluh dan keluh yang harus dihadapi. Kuat-kuat untuk hidup dan menghidupi, tahun-tahun selanjutnya adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita tebak kemana alurnya akan mengalir. Kencangkan sabuk, siapkan bekal, buka peta, atur rute perjalanan dan berangkatlah, petualang!

Komentar