Puisi Kesaksian Jam Dinding Karya Ali Yasin Akillah


 Kesaksian Jam Dinding

Dua tahun:

Kakiku masih kecil dengan

telapak yang belum mampu

diajak terus berlari.

Tanganku masih ringkih dengan

jemari mungil yang belum mampu 

menopang tubuhku sendiri.

Jalanku masih tertatih-tatih

di atas tikar tipis dalam rumah sewa

yang kumuh didiami tiga tubuh.


Mataku masih cemerlang

melihat awan gemawan 

yang bernaung di lukisan Tuhan

bernama langit.

Telingaku masih jelas 

mendengar kicau orang tuaku 

yang menyuruhku pulang

karena hari hampir gelap.

Tidurku masih lelap

disaksikan jam dinding

yang berdetik sepanjang malam.


Sebelas tahun:

Kakiku mulai kuat dengan

tulang yang mampu diajak berlari

mengitari sekolah hingga lima rumah.

Tanganku mulai erat genggamannya

dengan buku jari yang menggelap berlipat-lipat.

Mulutku mulai pandai untuk berkilah

mengucap kata yang tidak sebenarnya

hingga orang-orang teperdaya.


Mataku mulai pintar melirik

gadis cantik milik temanku

wajahnya mencerlang 

dengan lesung pipi

di sudut bibirnya yang manis.

Telingaku mulai samar 

mendengar titah orang tuaku

yang terus menuntut ini itu

dengan nilai tukar yang semu.

Tidurku mulai sepi

hanya sesekali tersadar

bahwa jam dinding terus berdetik.


Dua puluh tahun:

Kakiku telah liat untuk bertualang 

di hutan gamang penuh ilalang

dengan telapak banyak berkerut

dan punggungnya carut-marut.

Tanganku telah padat

cukup membawa sebelas kantung harapan,

lima kantung kenangan, dan 

dua kantung penderitaan.

Hidungku telah mahir

mencium aroma kata

yang terselip kekeliruan.


Mataku telah kabur

melihat warna diri seseorang

tersebab dapur pemikiran

yang salah dalam peresepan.

Telingaku telah hilang fungsinya

karena petuah orang-orang

dilalap egoku seorang.

Tidurku telah terusik

oleh suara-suara berisik

dalam kepala yang saling bercakap

dan detak jam dinding menjadi senyap.

Komentar