Kesaksian Jam Dinding
Dua tahun:
Kakiku masih kecil dengan
telapak yang belum mampu
diajak terus berlari.
Tanganku masih ringkih dengan
jemari mungil yang belum mampu
menopang tubuhku sendiri.
Jalanku masih tertatih-tatih
di atas tikar tipis dalam rumah sewa
yang kumuh didiami tiga tubuh.
Mataku masih cemerlang
melihat awan gemawan
yang bernaung di lukisan Tuhan
bernama langit.
Telingaku masih jelas
mendengar kicau orang tuaku
yang menyuruhku pulang
karena hari hampir gelap.
Tidurku masih lelap
disaksikan jam dinding
yang berdetik sepanjang malam.
Sebelas tahun:
Kakiku mulai kuat dengan
tulang yang mampu diajak berlari
mengitari sekolah hingga lima rumah.
Tanganku mulai erat genggamannya
dengan buku jari yang menggelap berlipat-lipat.
Mulutku mulai pandai untuk berkilah
mengucap kata yang tidak sebenarnya
hingga orang-orang teperdaya.
Mataku mulai pintar melirik
gadis cantik milik temanku
wajahnya mencerlang
dengan lesung pipi
di sudut bibirnya yang manis.
Telingaku mulai samar
mendengar titah orang tuaku
yang terus menuntut ini itu
dengan nilai tukar yang semu.
Tidurku mulai sepi
hanya sesekali tersadar
bahwa jam dinding terus berdetik.
Dua puluh tahun:
Kakiku telah liat untuk bertualang
di hutan gamang penuh ilalang
dengan telapak banyak berkerut
dan punggungnya carut-marut.
Tanganku telah padat
cukup membawa sebelas kantung harapan,
lima kantung kenangan, dan
dua kantung penderitaan.
Hidungku telah mahir
mencium aroma kata
yang terselip kekeliruan.
Mataku telah kabur
melihat warna diri seseorang
tersebab dapur pemikiran
yang salah dalam peresepan.
Telingaku telah hilang fungsinya
karena petuah orang-orang
dilalap egoku seorang.
Tidurku telah terusik
oleh suara-suara berisik
dalam kepala yang saling bercakap
dan detak jam dinding menjadi senyap.
Komentar
Posting Komentar